Sistem Anti Teror Perancis Diaktifkan Usai Operasi Militer di Mali dan Somalia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Minggu, 13 Januari 2013, 17:49 WIB
Sistem Anti Teror Perancis Diaktifkan Usai Operasi Militer di Mali dan Somalia
Francois Hollande /ist
rmol news logo . Presiden Perancis Francois Hollande memerintahkan agar pengamanan sekitar bangunan publik dan alat transportasi di negara itu ditingkatkan. Ini adalah bentuk antisipasi setelah negara tersebut menggelar operasi militer di Afrika.

Pernyataan Presiden Hollande muncul hanya berselang beberapa jam setelah kelompok yang diserbu militer Perancis bersumpah menuntut balas. Jurubicara kelompok Ansar Dine berjanji mengatakan bahwa warga Perancis di seluruh negeri Muslim akan menanggung konsekuensi serangan dari tersebut. Demikian diberitakan BBC(Minggu, 13/1).

Sebelumnya, pasukan Perancis telah menyerbu markas yang diduga milik militan yang melakukan aksi teror dan penculikan di Mali dan Somalia. Dalam serangan ini Perancis harus kehilangan pilotnya yang tewas saat melakukan serangan udara di Mali.

Sementara di Somalia, dua tentara Perancis tewas saat mencoba membebaskan seorang korban penculikan warga Perancis yang masih disandera. Beberapa laporan menyebutkan sandera tersebut juga diduga telah tewas.

Usai serangan tersebut, sistem waspada anti teror Perancis yang disebut "Vigipirate" segera diaktifkan. Hal ini bertujuan untuk pengamanan pada bangunan publik serta jalur transportasi terutama pesawat dan kereta api.[ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA