Lima orang dinyatakan tewas di kota Suez, setelah aparat menggunakan
peluru tajam saat meredam aksi di kota tersebut. Sedangkan tiga
pengunjuk rasa tewas di Kairo, hanya beberapa meter dari Kementerian
Dalam Negeri.
Dalam aksinya, ribuan massa menuntut pertanggungjawaban aparat keamanan yang dinilai tidak mampu mengantisipasi terjadinya kerusuhan. Bahkan dalam beberapa rekaman video, aparat keamanan terlihat diam saat kerusuhan terjadi.
"Orang-orang ingin jawaban tentang bagaimana persis bencana sepak bola terjadi. Mengapa kepolisian, seperti yang terlihat pada kamera, tetap di pinggir lapangan," ujar demonstran yang tak disebutkan namanya sebagaimana dikutip
Al Jazeera (Sabtu, 4/2).
Demonstrasi menghujat aparat keamanan pun berlanjut setelah kerusuhan itu. Para demontran tidak hanya mengkritik kinerja kepolisian, lebih lanjut mereka mengatakan bahwa kerusuhan yang terjadi saat pertandingan antara Al Marsy melawan Al Ahly tersebut adalah kegagalan seluruh kepemimpinan yang ada di Mesir.
"Ini bukan hanya tentang kegagalan kepolisian, tetapi kegagalan seluruh kepemimpinan," ujar para demonstran.
Kerusuhan di lapangan hijau, terjadi saat ribuan pendukung Al Marsy dengan membabi buta memukuli setiap anggota tim dan pendukung Al Ahly yang ada di Stadion Port Said usai laga yang dimenangkan oleh Al Marsy dengan skor 3-1 itu.
Kerusuhan itu merupakan tragedi sepak bola terparah di dunia dalam 15 tahun terakhir. Kerusuhan memicu kemarahan rakyat Mesir yang sudah tidak percaya dengan polisi dan pemerintahan militer.
[arp]
BERITA TERKAIT: