Milisi menyerahkan senapan, peluncur roket dan granat kepada pasukan pemerintah Pantai Gading yang dipimpin Presiden Alassane Ouattara. Ratusan tentara pemerintah terus mengawasi upacara penyerahan senjata. Selain pasukan pemerintah, pasukan penjaga perdamaian PBB pun hadir di sana untuk mengawasi.
Eugene Djue, salah satu pemimpin sisa dari milisi, seperti yang dilansir dari
AFP mengatakan faktor utama yang membuat mereka menyerahkan senjata adalah permintaan dari warga sipil yang sudah muak dengan pertempuran dan kerap meminta korban dari masyarakat sipil.
"Warga meminta kami untuk tidak menggunakan kekerasan. Karena jika terjadi kekerasan, mereka akan menjadi korban pertama," kata Eugene.
Lingkungan Yopougon di sebelah barat laut Abidjan adalah benteng terakhir milisi pro Gbagbo setelah Ouattara menangkap mantan Presiden dan mengambil alih kekuasaan pada tanggal 11 April. Dengan penyerahan senjata secara simbolik ini, diharapkan tidak ada lagi perang saudara di negara asal Dider Drogba itu.
"Pantai Gading telah begitu banyak melihat pertumpahan darah. Sangat berlebihan dan harus segera dihentikan. Ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Dan sekarang kami ingin damai," demikian tegas Philippe Mangou, kepala pasukan milisi pro-Gbagbo yang telah mengucapkan janji setia kepada Ouattara.
[arp]
BERITA TERKAIT: