“Penutupan Festival Budaya Indonesia yang dirangkai dalam format pagelaran dan workshop sehari ini, kuasai semua ruangan teater Istana Bozar, 19/09/10 semalam,” tutur PLE Priatna, Minister Counsellor Pensosbud Diplik KBRI Brussel dalam siaran pers yang dikirimkan melalui surat elektroniknya kepada
Rakyat Merdeka Online, Senin (20/09).
Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa, Arif Havas Oegroseno tampak hadir bersama Paul du Jardin, CEO Museum Istana Bozar, di tengah ratusan penonton yang tampak melimpah di puncak acara penutupan Festival Budaya Indonesia di 3 kota: Gent, Antwerpen dan Brussels, 11-19 September 2010. Demikian imbuh PLE Priatna, pengelola Pusat Budaya Indonesia di Brussel itu.
“Kami sedang menyiapkan program lanjutan, Festival Budaya Indonesia, baik di Belgia maupun Luksemburg bekerja dengan mitra kita, pihak Bozar, Anmaro, dan Pairidaisa untuk tahun 2011/2012 mendatang, agar outreach pengenalan keindonesiaan di Eropa semakin luas”, demikian kilah Dubes Brussel Arif Havas Oegroseno saat penutupan di gedung megah teater Istana Bozar di Brussel.
Pentas orkestra gamelan Sunda asuhan Nano Suratno dan Iwan Gunawan gabungkan denyut tradisi dan warna musim modern yang menghentak dinamis serta alunan ritmik bertalu melengking gamelan Bali Smara Ratih ala Anak Agung Gde Anom terasa membius penonton tetap berada di tempat duduk.
Nano Ruratno, Anak Agung Gde Anom Putra, Iwan Gunawan, I Made Arnawa Pabuan lantunkan kolaborasi karya inspirasi Steve Reich. Inspirasi karya komponis Steve Reich, yang mencintai gamelan ini, dimainkan secara apik dan memperoleh standing applause yang luar biasa.
KBRI Brussel, Pusat Budaya Indonesia Brussel bekerjasama dengan Museum Istana Bozar dan impresariat seni Anmaro Amsterdam berhasil kolaborasi selenggarakan sepekan pesta gamelan dan tari di 3 kota di Belgia serta mendapat sambutan yang membanggakan.
“Degung, kecapi suling, tari jaipong Sunda, gendang dan terompet Pencak serta tarian dan gamelan Bali, menjadi suguhan langka, yang siap untuk go internasional memperluas kiprah keindonesiaan di Eropa ini”, demikian PLE Priatna meyakinkan.
[arp]
BERITA TERKAIT: