Investor kembali berhati-hati setelah kenaikan imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat (AS) jangka panjang memperkuat kekhawatiran terhadap kondisi inflasi.
Pantauan RMOL, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,92 persen, sedangkan Topix melemah 0,40 persen.
Di Korea Selatan, Kospi turun 1,07 persen, sementara Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil merosot lebih dalam sebesar 2,44 persen.
Di Australia, indeks acuan S&P/ASX 200 juga bergerak di zona merah dengan penurunan 0,21 persen.
Tekanan di pasar Asia terjadi setelah Wall Street mencatatkan kerugian pada Kamis. Kenaikan kembali imbal hasil Treasury AS jangka panjang menjadi salah satu faktor utama yang membebani sentimen investor.
Kenaikan imbal hasil tersebut terjadi setelah upaya pemerintah AS untuk membendung pelemahan pasar obligasi dalam beberapa waktu terakhir belum berhasil meredakan kekhawatiran investor terhadap inflasi.
Kondisi ini membuat investor semakin waspada karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pinjaman dan menekan valuasi saham.
Pergerakan pasar juga menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap inflasi masih menjadi perhatian utama investor. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, saham cenderung menghadapi tekanan karena investor memiliki alternatif investasi dengan tingkat pengembalian yang lebih menarik.
BERITA TERKAIT: