Program tersebut dinilai berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru sekaligus membangun ekosistem perfilman di Jakarta.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Muhammad Al Fatih mengatakan, rencana tersebut harus bisa menggairahkan kembali aktivitas ekonomi. Terutama di kawasan pasar sebagai pusat interaksi masyarakat.
“Jaksinema bukan sekadar fasilitas menonton film, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman. Sekaligus, menggerakkan ekonomi,” kata Al Fatih, dikutip dari laman DPRD DKI Jakarta, Selasa 6 Oktober 2026.
Menurut Al Fatih, pengembangan Jaksinema berpotensi jadi sarana hiburan layar lebar yang terjangkau. Di antaranya dengan pembangunan bioskop di sejumlah pasar.
Namun, pengembangan Jaksinema tidak cukup hanya mengejar jumlah layar. Menurutnya, lokasi bioskop, harga tiket, hingga karakter film yang ditayangkan perlu diperhatikan.
Al Fatih berharap, Jaksinema memberi ruang bagi film berkualitas dan edukatif yang mengangkat sejarah, budaya, serta cerita tentang Jakarta.
“Orang datang menonton. Kemudian berbelanja dan berinteraksi di ruang publik,” kata Al Fatih.
Konsep tersebut dapat menjadi pembeda Jaksinema dengan bioskop pada umumnya yang berada di pusat perbelanjaan. Karena itu, kurasi film penayangan perlu beragam. Mulai dari film lokal, independen, edukasi hingga karya sineas Jakarta.
Keberadaan bioskop di kawasan pasar bukan hal baru bagi Jakarta. Bioskop pernah berjaya di sejumlah pasar. Seperti Pasar Baru, Pasar Blok M, Pasar Mayestik, Pasar Palmerah, dan Pasar Senen.
Masa kejayaan tersebut berlangsung bersamaan dengan berkembangnya industri perfilman. Termnasuk kemunculan sejumlah bintang film nasional.
Antara lain, Nani Wijaya, Nurnaningsih, Rima Melati, Netty Herawati, Wolly Sutanah, Tan Tjeng Bok, Faruk Affero, hingga Deddy Soetomo.
Masa kejayaan usaha perbioskopan dan perfilman berlangsung hingga menjelang krisis ekonomi 1997. Sejumlah bioskop seperti Metropole (Megaria), Rivoli, Kramat, Menteng, Palmerah, dan Blok M pernah menjadi bagian dari geliat industri perfilman Jakarta.
Ketika perekonomian kembali pulih pada awal 2000-an, pembangunan bioskop mulai bergeser ke pusat perbelanjaan. Kemudian muncul jaringan bioskop modern seperti Bioskop 21.
Sebagian gedung bioskop lama di Jakarta kemudian berubah fungsi menjadi pusat perdagangan, sementara sebagian lainnya terbengkalai. Salah satunya gedung Bioskop Kramat yang pernah mengalami masa kejayaan pada 1970-1990-an.
BERITA TERKAIT: