Emas spot turun 0,5 persen ke 4.144,36 Dolar AS per ons dan emas berjangka AS melemah 0,3 persen ke 4.157,40 Dolar AS per ons.
Koreksi ini terjadi setelah emas sempat menyentuh level tertinggi dua pekan pada hari Senin akibat melemahnya data tenaga kerja AS.
Pemicu utama pelemahan ini adalah kembali meningkatnya kekhawatiran inflasi menyusul lonjakan harga minyak setelah serangan terhadap dua kapal tanker di Selat Hormuz, serta ketegangan antara Iran dan AS.
Situasi ini menyadarkan pasar bahwa Federal Reserve kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi menekan inflasi, di mana data FedWatch menunjukkan peluang 60 persen kenaikan suku bunga pada September nanti. Investor kini bersikap waspada menanti rilis risalah rapat kebijakan (FOMC) bulan Juni untuk mendapat petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. Karena emas tidak memberikan imbal hasil, prospek suku bunga tinggi ini otomatis menggerus daya tariknya.
Meski tertekan, penurunan harga emas tertahan oleh sentimen positif dari Asia. Bank Sentral China (PBOC) melanjutkan tren bullish dengan menambah cadangan emasnya selama 20 bulan berturut-turut menjadi 75,44 juta troy ounce hingga akhir Juni.
Di saat yang sama, Hong Kong resmi meluncurkan sistem kliring terpusat dan mengaktifkan kembali kontrak berjangka emas untuk memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan regional.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: