Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rahman, menilai ruang bagi kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka karena berbagai risiko eksternal dan domestik belum menunjukkan tanda mereda.
"Karena ketidakpastian global dan domestik yang terus-menerus kemungkinan tidak akan mereda dalam waktu dekat, sehingga menimbulkan risiko berkelanjutan terhadap stabilitas rupiah," kata Faisal dalam keterangannya, Selasa 9 Juni 2026.
Menurutnya, tantangan yang masih membayangi perekonomian global dan domestik membuat bank sentral perlu mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas untuk menjaga nilai tukar rupiah, meski BI telah menaikkan suku bunga secara mendadak sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen pada Selasa ini.
"Ini untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan pasar keuangan di tengah ketidakpastian yang terus meningkat," kata Faisal.
Faisal mengatakan, dari sisi global, konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi mendorong inflasi dunia sekaligus memengaruhi arah kebijakan moneter negara-negara besar.
"Akibatnya, ekspektasi pasar telah bergeser ke arah The Fed yang lebih agresif, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga kebijakan pada Desember 2026," kata Faisal.
Dalam kondisi tersebut, BI diperkirakan akan tetap mempertahankan pendekatan kebijakan pro-stabilitas guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik di mata investor global.
BERITA TERKAIT: