Penurunan ini dipicu oleh lemahnya permintaan ekspor yang membayangi pergerakan pasar.
Pada jeda siang, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Agustus terkoreksi sebesar 77 ringgit atau 1,68 persen, menetap di level 4.498 Ringgit Malaysia atau setara 1.107,34 Dolar AS per metrik ton.
Di sisi lain, mata uang Ringgit menguat 0,27 persen terhadap Dolar AS, bangkit dari posisi terendahnya sejak 13 Januari lalu. Depresiasi ringgit sebelumnya sempat memberi sedikit angin segar, namun hal itu tidak bisa terus-menerus menjadi penahan koreksi harga. Pasar membutuhkan realisasi permintaan yang kuat sebelum memasuki fase puncak produksi pada triwulan ketiga.
Berdasarkan estimasi surveyor kargo, volume ekspor produk sawit Malaysia sepanjang Mei diprediksi anjlok antara 8,8 persen hingga 15,5 persen dibanding bulan lalu. Sementara itu, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) bersiap merilis data suplai dan permintaan bulanan pada hari Rabu esok.
Koreksi harga ini juga sejalan dengan melemahnya pasar minyak nabati global. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai aktif menyusut 0,98 persen dan kontrak sawitnya terpangkas 1,27 persen. Sementara di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai melorot 0,63 persen.
Fluktuasi CPO kerap mengekor pergerakan komoditas rivalnya tersebut karena ketatnya persaingan di pasar minyak nabati dunia.
Sentimen negatif tambahan datang dari sektor energi. Harga minyak mentah dunia jatuh dan mengikis keuntungan sesi sebelumnya setelah Iran dan Israel meredam ketegangan menyusul imbauan Presiden AS Donald Trump—meski kedua negara tetap membuka peluang eskalasi lanjutan. Turunnya harga minyak mentah ini otomatis mengurangi daya tarik sawit sebagai bahan baku biodiesel.

BERITA TERKAIT: