Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran 4.300 Dolar AS per ons setelah anjlok hampir 5 persen pekan lalu.
Nasib serupa menimpa perak yang kini tertahan di dekat 68 Dolar AS per ons setelah merosot tajam hingga 10 persen dalam periode yang sama.
Dua faktor utama menjadi penyebab kejatuhan. Pertama adalah ketegangan Timur Tengah. Eskalasi geopolitik kembali memanas setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel sebagai respons atas aktivitas militer di Lebanon. Meski militer Israel mengklaim seluruh proyektil berhasil dicegat tanpa adanya korban jiwa, dampak ekonominya tetap menjalar ke pasar global.
Konflik yang berkepanjangan ini memicu penutupan hampir total pada Selat Hormuz, jalur urat nadi distribusi energi dunia. Akibatnya, pasokan energi dari Teluk Persia terganggu, harga minyak mentah terkerek naik, dan kekhawatiran akan lonjakan inflasi global kembali mencuat.
Kedua, efek keperkasaan data tenaga kerja AS (Hot Labor Market)
Selain faktor geopolitik, tekanan berat juga datang dari negeri Paman Sam. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) terbit lebih kuat dari perkiraan pasar. Sektor tenaga kerja yang masih "panas" ini langsung mengubah peta ekspektasi kebijakan moneter bank sentral AS.
The Federal Reserve (The Fed) kini diprediksi memiliki ruang lebih besar untuk kembali agresif. Pasar merespons cepat dengan menaikkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember mendatang menjadi 70 persen, melonjak signifikan dari yang sebelumnya hanya berkisar di angka 50 persen.
BERITA TERKAIT: