Empat saham yang dikeluarkan masing-masing PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari kategori Large Cap, serta PT Diastika Biotekindo Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dari kategori Micro Cap. Seluruh perubahan tersebut efektif berlaku mulai 22 Juni 2026.
Menanggapi kondisi tersebut, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai tekanan pasar masih akan terasa dalam jangka pendek, terutama akibat kombinasi efek rebalancing FTSE dan MSCI yang belum sepenuhnya selesai.
Meski begitu, Reydi melihat penurunan tajam saham DSSA justru mulai memunculkan aksi akumulasi dari sebagian investor yang menilai valuasi saham sudah cukup menarik.
“Kalau secara pribadi sih, setelah penurunan DSSA ini kelihatannya investor sudah mulai sadar. Sudah mulai pricing in. Artinya memang sudah ada yang sengaja akumulasi di harga sekarang,” ujar Reydi kepada RMOL, Selasa 26 Mei 2026.
Menurutnya, sebagian pelaku pasar kini mulai melihat saham-saham di Indonesia dari sisi valuasi jangka panjang. Bahkan, dibandingkan bursa saham negara Asia lainnya, valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih relatif murah untuk kategori emerging market.
“Mau besok turun lagi juga mungkin banyak investor yang sudah tidak terlalu memikirkan, karena mereka melihat dari sisi valuasi. Saham-saham yang dibicarakan itu sekarang kalau dibandingkan dengan bursa Asia lainnya, sebenarnya IHSG masih punya valuasi yang cukup menarik. Bisa dibilang cukup murah untuk kategori emerging market,” katanya.
Namun dalam jangka pendek, Reydi memperkirakan tekanan jual masih akan mendominasi perdagangan. Ia menilai efek rebalancing MSCI sebelumnya belum sepenuhnya selesai, ditambah implementasi perubahan FTSE yang mulai berlaku pada Juni 2026.
“Kalau kita lihat satu hingga dua minggu ke depan, kemungkinan tekanan jualan masih besar dari asing. Karena saat asing keluar, kelihatannya belum selesai efek rebalancing dari MSCI, dan dampaknya FTSE juga sangat berpengaruh,” ujarnya.
Menurut Reydi, IHSG masih sangat sensitif terhadap arus dana asing maupun domestik, sehingga potensi pelemahan indeks masih terbuka dalam beberapa waktu mendatang.
“IHSG yang terpengaruh oleh investasi asing maupun lokal masih akan dibayangi penurunan di minggu-minggu depan,” kata dia.
Selain sentimen rebalancing indeks global, Reydi juga menyoroti faktor libur panjang yang dinilai turut memperbesar tekanan jual di pasar saham pekan ini. Ia mengatakan banyak investor memilih mengurangi posisi saham untuk menghindari risiko ketidakpastian selama pasar tutup.
“Apalagi minggu ini akan ada libur panjang, dan hari terakhir transaksi adalah hari Jumat, jadi tekanan jualan akan jauh lebih besar. Banyak investor yang tidak mau memegang saham atau paling tidak mengurangi posisinya, karena mereka tidak mau bertaruh untuk melewati hari-hari libur tanpa bisa transaksi,” jelasnya.
Menurut Reydi, kekhawatiran investor terutama berkaitan dengan potensi munculnya sentimen global selama libur berlangsung, termasuk kemungkinan pernyataan terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
“Takutnya besok ada notulen The Fed ngomong apa, atau ada sentimen lain. Karena kita tidak bisa jualan saham saat libur, portofolio mereka bisa terbawa turun,” ujarnya.
Karena itu, ia memperkirakan tekanan jual akan tetap kuat hingga akhir pekan, terutama menjelang implementasi efektif indeks MSCI dan FTSE pada Juni mendatang.
“Makanya saya rasa dari hari ini sampai besok Jumat itu tekanan jualnya cukup kuat," katanya.
“Jualannya banyak karena per bulan Juni itu indeks MSCI sama FTSE sudah efektif berlaku. Jadi passive fund dan manajer investasi benar-benar menggunakan momen ini untuk jualan,” sambung Reydi.
BERITA TERKAIT: