Situasi ini dipicu oleh masih tertutupnya Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak global yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Badan Energi Internasional atau IEA memperingatkan bahwa harga minyak dan bahan bakar kemungkinan akan terus naik menjelang puncak permintaan musim panas. Menurut IEA, cadangan minyak yang terus menipis di tengah gangguan pasokan berkepanjangan bisa memicu lonjakan harga yang lebih besar dalam waktu dekat.
Saat ini pasar minyak memang belum sepenuhnya merasakan dampaknya karena masih ditopang oleh stok minyak komersial, cadangan strategis pemerintah, dan kapal tanker yang masih dalam perjalanan. Namun CEO Exxon Mobil Darren Woods mengingatkan bahwa cadangan tersebut tidak akan mampu menopang pasar selamanya.
“Kami memperkirakan jika kondisi ini terus terjadi dan selat tetap tertutup, harga minyak akan terus naik di pasar,” ujarnya, dikutip dari
CNBC International, Senin 18 Mei 2026.
Sementara Bank UBS memperkirakan total cadangan minyak global akan mendekati rekor terendah pada akhir Mei 2026. Dari posisi sekitar 8 miliar barel pada Februari, stok minyak diperkirakan turun menjadi hanya 7,6 miliar barel.
Analis JPMorgan Chase mengatakan kondisi ini dapat memberi tekanan serius pada rantai pasokan energi global. Mereka menilai, meskipun angka miliaran barel terlihat besar, sebenarnya hanya sekitar 800 juta barel yang benar-benar tersedia untuk digunakan tanpa mengganggu sistem distribusi.
Sebagian besar stok lainnya dibutuhkan agar pipa, tangki, dan jaringan distribusi tetap dapat beroperasi normal. Kepala strategi komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva, menggambarkan situasi ini seperti aliran darah dalam tubuh manusia.
“Sistem tidak gagal karena minyak habis, tetapi karena jaringan sirkulasinya tidak lagi memiliki volume yang cukup,” katanya.
JPMorgan memperkirakan cadangan minyak dunia bisa turun hingga 6,8 miliar barel pada September apabila Selat Hormuz masih ditutup. Sementara itu, Rapidan Energy memperingatkan stok bahan bakar olahan dapat mencapai level kritis lebih cepat, yakni pada Juli atau Agustus. Menurut lembaga tersebut, kondisi itu bisa membuat ekonomi global “macet” karena infrastruktur transportasi kesulitan memperoleh bahan bakar dengan harga berapa pun.
Meski demikian, para analis menilai kemungkinan cadangan minyak benar-benar mencapai titik kritis masih kecil. Sebelum itu terjadi, harga minyak diperkirakan akan melonjak tajam untuk menekan permintaan. Namun dampaknya tetap berat karena dapat memicu perlambatan ekonomi global yang parah sebelum memasuki kuartal ketiga 2026.
BERITA TERKAIT: