Hal itu disampaikan Purbaya saat ditanya mengenai kemungkinan bantuan pemerintah bagi pelaku usaha tahu dan tempe yang belakangan mengeluhkan kenaikan biaya produksi.
"Nanti kita lihat seperti apa ke depan. Yang jelas kan kita harapkan Rupiah bisa menguat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Itu aja," kata Purbaya di Jakarta, pada Senin 8 Juni 2026.
Purbaya menegaskan fokus pemerintah saat ini menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang tengah berada di bawah tekanan.
"Kita serahkan semua ke bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah," ujarnya.
Sebelumnya, Purbaya mengakui pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS telah memicu kenaikan biaya impor sejumlah komoditas, termasuk kedelai yang menjadi bahan baku utama industri tahu dan tempe. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga jual di tingkat konsumen dan menambah beban pelaku usaha kecil di sektor pangan.
"Kan saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor. Yang jelas itu akan menaikkan cost of production mereka," ucap Purbaya di Gedung DPR pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Untuk itu, Purbaya menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar Rupiah untuk menjaga biaya impor bahan baku tetap terkendali. Dengan begitu, pelaku usaha kecil tidak terus menghadapi tekanan biaya produksi.
Menurutnya, pemerintah saat ini tengah berupaya memastikan stabilitas ekonomi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Pemerintah tidak hanya ingin menjaga stabilitas indikator ekonomi makro. Pemerintah juga ingin manfaat stabilitas itu terasa langsung oleh masyarakat," tandasnya.
BERITA TERKAIT: