Melemahnya greenback dipicu oleh laporan kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran, serta pelonggaran pembatasan pelayaran di Selat Hormuz.
Kabar damai ini langsung mengikis status safe haven Dolar AS yang sempat perkasa di awal konflik. Akibatnya, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia, bergerak datar di level 98,92 dan terkunci dalam tren pelemahan mingguan.
Meskipun data terbaru menunjukkan inflasi AS melonjak tajam pada April akibat harga energi, pergerakan DXY justru cenderung tertahan. Pasar berspekulasi Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga tinggi hingga tahun depan, namun yield obligasi yang tidak ikut menanjak membuat performa Dolar AS kurang bertenaga.
Koreksi DXY ini dimanfaatkan oleh mata uang global lainnya. Euro berhasil menguat ke level 1,16620 Dolar AS, disusul Poundsterling yang naik ke 1,3466 Dolar AS.
Dolar Selandia Baru melesat hampir 0,85 persen sedangkan Yen Jepang tertahan di level 159,27 per Dolar AS.
BERITA TERKAIT: