Jika ketegangan geopolitik terus memanas dan memicu lonjakan harga minyak, pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik diprediksi bisa anjlok ke level 4,2 persen pada 2026.
Skenario buruk ini juga dibarengi dengan ancaman inflasi yang membengkak hingga 7,4 persen tahun depan, melonjak tajam dari posisi 3,0 persen pada 2025.
Bahkan dalam kondisi normal sekalipun, ekonomi kawasan diperkirakan tetap melambat ke angka 4,7 persen tahun ini karena tekanan harga energi dan ketatnya kondisi keuangan global.
Menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, ADB tidak tinggal diam. Lembaga ini meluncurkan program ketahanan regional raksasa senilai 70 miliar Dolar AS.
Rinciannya adalah; Pertama, sebesar 50 miliar Dolar AS untuk jaringan listrik Pan-Asia. royek ini bertujuan mengintegrasikan energi terbarukan lintas negara demi memperkuat keamanan energi sekaligus menekan emisi karbon.
Kedua, sebesar 20 miliar Dolar AS untuk konektivitas digital. Dana ini difokuskan untuk menghapus kesenjangan digital dan mempererat jaringan komunikasi di seluruh pelosok kawasan.
Di tengah fragmentasi politik dan krisis lingkungan, Masato Kanda menegaskan posisi ADB sebagai penopang stabilitas. Sepanjang tahun 2025, ADB telah mengucurkan dukungan finansial sebesar 29,3 miliar Dolar AS ke berbagai negara anggota.
Kanda menekankan bahwa cara-cara konvensional tidak lagi memadai di era sekarang. Ia mengajak seluruh pemimpin dunia untuk membangun sistem yang saling terhubung erat dan tangguh.
"Tugas di depan memang berat, tetapi dengan sumber daya dan tekad bersama, kita punya strategi yang jelas untuk melaluinya," tegasnya, dikutip dari Reuters, Selasa 5 Mei 2026.
BERITA TERKAIT: