Selamat Idul Fitri Mudik

Konflik Geopolitik Bikin Harga Plastik Melejit, UMKM Makin Menjerit

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Selasa, 31 Maret 2026, 17:24 WIB
Konflik Geopolitik Bikin Harga Plastik Melejit, UMKM Makin Menjerit
Pedagang di pasar tradisional. (RMOL/Alifia)
rmol news logo Lonjakan harga minyak dunia yang menembus di atas 100 dolar AS per barel mulai berdampak ke sektor riil, termasuk industri plastik yang bergantung pada bahan baku turunan minyak.

Kenaikan tersebut bahkan telah dirasakan langsung oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjual plastik dan kemasan lainnya.

Salah satu pelaku UMKM, Aisyah (27), mengeluhkan harga berbagai jenis plastik yang mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Plastik biasa yang sebelumnya dijual sekitar Rp5.000 per pak kini naik menjadi Rp6.000 hingga Rp7.000.

Sementara itu, plastik dengan kualitas lebih baik melonjak dari Rp12.000 menjadi Rp16.000 per pak, atau naik sekitar 33 persen.

“Sekarang platik yang bagus itu dijual Rp16 ribu, dulu Rp12 ribu. Sekarang harganya Rp16 ribu,” kata Aisyah kepada RMOL, pada Selasa 31 Maret 2026.

Tidak hanya kantong plastik, kenaikan juga terjadi pada kemasan lain seperti cup kue hingga thinwall.

“Pokoknya semua bahan plastik naik,” kata Aisyah.

Ia menjelaskan, lonjakan harga tersebut mulai terasa sejak periode Ramadan lalu. Pada periode tersebut, perang meletus antara Iran serta Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Kondisi ini membuat pelaku usaha menghadapi dilema, karena harus menyesuaikan harga di tengah daya beli konsumen yang belum sepenuhnya pulih.

“Mereka (pembeli) kan sudah biasa nerima Rp12 ribu, terus sekarang Rp16 ribu. Banyak banget yang nanya, ‘kok naiknya tinggi bgt’,” tuturnya.

“Kalau plastik itu tipis (untungnya), enggak bisa kita, walaupun sudah langganan, susah ngga bisa didiskon,” tambahnya.

Imbas kenaikan tersebut, margin usaha, kata Aisyah menjadi tertekan. Untuk bertahan, ia terpaksa mengurangi volume pembelian agar tetap sesuai dengan budget. Ia mencontohkan, dengan anggaran terbatas, ia kini harus mengatur ulang belanja.

“Iya karena uangnya harus dibagi-bagi. Jadi jumlahnya dikurangi. Misalkan budget Rp5 juta, harus dibagi buat beli plastik, thinwall dan produk lainnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Aisyah juga mengkhawatirkan potensi kenaikan lanjutan jika harga bahan bakar minyak (BBM) ikut terdongkrak, seperti yang beredar di media sosial.

“Kalau misalkan BBM naik, (pasti) harganya bisa naik lagi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) juga mengakui adanya lonjakan harga plastik di seluruh daerah.

"Ini memang tidak hanya pedagang sini, hampir seluruhnya memang mengeluhkan soal harga plastik. Naiknya nggak kira-kira. Ini bukan naik, melonjak," kata Zulhas di Pasar Minggu pada Sabtu 28 Maret 2026 lalu.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA