Kepala Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso mengatakan peningkatan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan penjualan pada sebagian besar kelompok barang, khususnya kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang.
Sementara secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2026 juga diprakirakan meningkat 4,4 persen (mtm).
“Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan serta persiapan menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah,” kata Denny dalam keterangannya pada Selasa, 10 Maret 2026.
Sementara itu, pada Januari 2026, IPR tercatat tumbuh 5,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut didukung oleh meningkatnya penjualan pada kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang.
Namun secara bulanan, penjualan eceran pada Januari 2026 mengalami kontraksi sebesar 2,7 persen. Penurunan ini disebut sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah periode HBKN Natal dan Tahun Baru.
Dari sisi harga, tekanan inflasi untuk tiga bulan mendatang, yakni April 2026, diprakirakan menurun. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 yang berada di level 153,9, lebih rendah dibandingkan IEH Maret 2026 sebesar 175,7.
“Penurunan tersebut dipengaruhi oleh normalisasi harga setelah HBKN Idulfitri 1447 H,” kata Denny.
Sementara itu, ekspektasi harga untuk enam bulan mendatang atau Juli 2026 diperkirakan meningkat. IEH Juli 2026 tercatat sebesar 157,1, sedikit lebih tinggi dibandingkan IEH Juni 2026 yang berada di level 156,3.
“Kenaikan ini dipicu oleh potensi peningkatan harga seiring dimulainya tahun ajaran baru.” tandasnya.
BERITA TERKAIT: