Angka ini turun 3,7 miliar Dolar AS dibandingkan posisi Februari 2026 yang sebesar 151,9 miliar Dolar AS.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan cadangan devisa dipicu oleh beberapa faktor, antara lain penerbitan surat utang internasional pemerintah, pembayaran utang luar negeri, serta intervensi BI untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah,” kata Denny dalam keterangannya pada Rabu, 8 April 2026.
Denny menambahkan, kebijakan stabilisasi nilai tukar diperlukan sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang memengaruhi Rupiah.
Meski cadangan devisa menurun, Denny menegaskan posisinya masih aman untuk membiayai sekitar 6 bulan impor atau 5,8 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujarnya.
Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat, didukung posisi cadangan devisa yang memadai dan aliran masuk modal asing. Hal ini sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional serta imbal hasil investasi yang tetap menarik.
“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tandas Denny.
BERITA TERKAIT: