Kondisi ini sejalan dengan tekanan yang tengah dihadapi ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) Indonesia di pasar global.
Dalam pemaparan di Jakarta, Selasa 27 Januari 2026, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, menyampaikan bahwa realisasi DMO hingga 26 Januari 2026 baru mencapai 87.174 ton.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Desember 2025 sebesar 167.131 ton dan November 2025 yang mencapai 184.076 ton.
DMO yang berasal dari produsen dalam negeri, khususnya eksportir kelapa sawit dan produk turunannya, menjadi sumber utama pasokan program minyak goreng rakyat Minyakita. Produsen yang memenuhi kewajiban DMO akan memperoleh insentif berupa hak ekspor produk turunan sawit.
“Ini menandakan adanya indikasi penurunan ekspor CPO. Karena realisasi DMO ini sangat terkait erat, sangat bergantung pada pergerakan ekspor kita,” ujar Nawandaru.
Ia menjelaskan, kinerja ekspor CPO Indonesia dipengaruhi sejumlah faktor global. Salah satunya adalah rencana kenaikan pungutan ekspor CPO yang membuat pelaku usaha bersikap lebih berhati-hati. Di sisi lain, permintaan dari negara pengimpor utama seperti India dan Pakistan juga tercatat menurun.
Tekanan ekspor turut diperberat oleh meningkatnya produksi minyak nabati dari negara lain, seperti minyak bunga matahari dan minyak kanola, yang memperketat persaingan harga di pasar internasional.
“Jadi artinya ada beberapa opsi-opsi di tingkat global yang juga salah satunya berpengaruh pada ekspor CPO kita. Kemudian juga adanya persaingan tarif ini juga memicu adanya penurunan ekspor ke luar negeri,” jelas Nawandaru.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Kemendag menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan penyaluran DMO guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, khususnya untuk menjaga stabilitas harga Minyakita.
Kemendag juga terus berkoordinasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta para produsen agar distribusi Minyakita tetap berjalan lancar, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
BERITA TERKAIT: