Meski konflik Timur Tengah memanas, investor lebih memilih beralih ke aset likuid (Dolar) seiring melonjaknya harga minyak dunia.
Dikutip dari Reuters, emas spot turun 1,5 persen ke 5.091,62 Dolar AS per ons. Sedangkan emas berjangka AS turun 1,1 persen ke 5.103,70 Dolar AS per ons.
Lonjakan harga minyak hingga 120 Dolar AS per barel meningkatkan permintaan dolar sebagai aset aman, yang secara otomatis membuat harga emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Kekhawatiran inflasi global akibat gangguan pasokan energi di Selat Hormuz memicu spekulasi bahwa bank sentral (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Pasar bersiap mengantisipasi rilis data inflasi (CPI dan PCE) pekan ini yang diprediksi akan menekan daya tarik emas jika hasilnya lebih tinggi dari perkiraan.
Meskipun emas berfungsi sebagai lindung nilai inflasi, daya tariknya memudar saat suku bunga tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil (yield). Namun, ketidakpastian geopolitik di Iran dan Lebanon tetap memberikan "batas bawah" yang mencegah harga jatuh lebih dalam karena statusnya sebagai safe-haven.
BERITA TERKAIT: