Hal ini ditandai dengan kunjungan Special Envoy Perdana Menteri Jepang sekaligus Supreme Advisor AZEC, Fumio Kishida, ke Kantor Kemenko Perekonomian, Senin 5 Mei 2025.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima langsung kunjungan tersebut. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Fumio Kishida pada Minggu malam, 4 Mei 2025.
Dalam kesempatan itu juga dilakukan seremoni penandatanganan Financial Close proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh di Solok, Sumatera Barat. Proyek berkapasitas 88 megawatt ini bernilai investasi mendekati 500 juta dolar AS atau sekitar Rp8,2 triliun.
"Kunjungan mantan Perdana Menteri ini menegaskan komitmen kuat Indonesia dan Jepang untuk terus bekerja sama di masa depan yang berkelanjutan dan rendah karbon," kata Airlangga.
Selain Muara Laboh, proyek lain yang masuk dalam kategori prioritas AZEC, antara lain Legok Nangka Energi, PLTP Sarulla, serta proyek jaringan transmisi Jawa-Sumatera yang diharapkan segera memasuki tahap komersial.
Airlangga mengungkap dalam pertemuan tersebut juga dibahas berbagai kerja sama di luar AZEC. Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk terus mendorong pembangunan berkelanjutan
"Juga dibahas tadi di luar AZEC yaitu terkait perkembangan tarif (resiprokal Amerika Serikat) dan juga terkait kerjasama Indonesia Jepang di sektor ekonomi lain," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: