“Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus melakukan perbaikan secara bertahap guna memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat dan negara," ucap Dian dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 1 Juni 2026.
Hal itu mencerminkan konsistensi perusahaan menerapkan disiplin operasional seraya mengakselerasi eksekusi strategi transformasi TLKM 30.
Telkomsel menyatakan akan terus fokus menjaga ARPU melalui peningkatan produktivitas pelanggan dan inovasi layanan digital lifestyle. Menurut Dian, dari sisi pasar saat ini, industri telekomunikasi masih prospektif karena konektivitas dan internet yang sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat.
"Dalam beberapa tahun terakhir pun kami melihat kebutuhan terhadap layanan internet terus tumbuh dan belum menunjukkan adanya tren penurunan. Kami optimistis untuk memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan customer experience yang baik," jelasnya.
Adapun segmen B2B Infrastructure menunjukkan kinerja positif dengan pendapatan sebesar Rp2,4 triliun atau tumbuh 6,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi berkelanjutan bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT).
Pada bisnis menara telekomunikasi dan FTTT yang digawangi oleh Mitratel, perseroan membukukan pendapatan Rp2,3 triliun atau tumbuh 1,4 persen YoY, dengan Tower Leasing dan Tower-Related Business tetap menjadi kontributor utama. Berkat efektivitas pengelolaan biaya dan fundamental bisnis yang kuat, Mitratel berhasil menjaga EBITDA margin stabil di 82,7 persen.
Sebagai pemimpin pasar menara telekomunikasi di Asia Tenggara, Mitratel memperkuat strategi portofolio pada aset fiber optic. Di kuartal I, Mitratel berekspansi sepanjang 1.080 km fiber optic yang menjadikan total kepemilikan mencapai 58.279 km. Strategi itu berhasil mendorong pertumbuhan bisnis FTTT, serta memperkuat kapabilitas Mitratel sebagai Next-Gen Tower Company yang terintegrasi.
Pada bisnis data center, pendapatan diperoleh dari fasilitas data center dan colocation data center NeutraDC Group, serta fasilitas edge data center NeuCentrIX yang saat ini berada di bawah kendali operasional Telkom. Data center menjadi salah satu platform digital dengan permintaan tinggi seiring perkembangan industri digital.
Melihat potensi itu, lahir inisiatif konsolidasi untuk menjadikan NeutraDC pengelola keseluruhan aset data center secara lebih fokus. Pendekatan ini akan mampu membuka peluang perluasan layanan, monetisasi aset, serta pertumbuhan bisnis melalui kolaborasi dengan mitra strategis.
"Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis, menghadirkan layanan yang semakin inklusif, serta membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas," tandas Dian.
Mengawali tiga bulan pertama 2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5 persen YoY. EBITDA tercatat sebesar Rp18,0 triliun dengan EBITDA margin pada 48,3 persen, dan laba bersih sebesar Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7 persen.
Sedangkan untuk laba bersih yang dinormalisasi sebesar Rp5,1 triliun dengan margin laba bersih yang dinormalisasi 13,8 persen. Kontraksi pada laba bersih terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan dari percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi.
BERITA TERKAIT: