AMEA Power merupakan perusahaan yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Mereka bergabung dalam proyek energi terbarukan pemerintah di Afrika senilai 4,5 miliar dolar AS atau Rp 69 triliun.
Ketua AMEA, Hussain Al Nowais, mengatakan pabrik hidrogen di Kenya akan menjadi yang pertama di negara Afrika Timur.
Pabrik itu disebutnya akan memproduksi sumber-sumber bersih tanpa emisi karbon, untuk menghasilkan gas hidrogen hijau.
Nantinya, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Mombasa akan menggunakan hidrogen hijau yang dihasilkan dari pabrik sebagai bahan bakarnya.
"Gas hidrogen hijau yang dihasilkan, pada akhirnya dapat menggantikan gas alam sebagai bahan bakar," ungkapnya, seperti dikutip dari
Al Arabiya pada Jumat (8/9).
Untuk tahap pertama, kata Al Nawais, pabrik hidrogen kenya akan memulai operasinya dengan membuat elektroliser berkapasitas satu gigawatt.
"Mari kita mulai dengan satu gigawatt dan lihat bagaimana keadaan dunia sebelum saya mulai memberikan miliaran dolar,” ujarnya.
Perusahaan milik keluarga ini juga menjajaki kemungkinan mendirikan pabrik hidrogen di Djibouti, yang terletak dekat dengan jalur pelayaran utama, Terusan Suez.
Selain UEA, negara lain di kawasan seperti Afrika Selatan, Namibia, Mauritania, Maroko, dan Mesir juga sedang mengembangkan pabrik hidrogen hijau.
BERITA TERKAIT: