Sirup Belimbing Wuluh SBB yang telah dipatenkan oleh Provinsi Banten sebagai oleh-oleh khas minuman Banten harus menghadapi dampak pandemi yang luar biasa. Menghadapi hal ini, Sri mengaku hanya bisa pasrah.
"Produk saya itu adalah produk oleh-oleh, yang biasanya memang untuk oleh-oleh wisatawan saat ke ke Banten. Jadi selama pandemi, pariwisata lesu produk saya juga lesu," katanya dalam acara Jendela Usaha yang diselenggarakan oleh Kantor Berita RMOL, Rabu (24/3)
Walau demikian, Sri tetap berjuang mempertahankan usahanya ini. Bila hati sedang dirundung kesedihan karena turunnyam omzet, maka biasanya ia mengingat lagi perjuangannya dalam merintis usaha ini agar semangatnya timbul lagi.
Bagi Sri Mulyati, olahan belimbing wuluh bukan hal yang baru. Orangtuanya telah lama menjadikan tanaman ini sebagai obat herbal. Sampai suatu kali, ia mencoba berinovasi untuk menjadikannya minuman kesehatan. Pikirnya, bila bisa untuk mengobatan herbal tentu bisa juga untuk dibuat menjadi minuman yang menyehatkan yang bisa disukai semua orang.
Sri membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk uji coba dan analisa produk. Belimbing wuluh yang asam memiliki banyak kendala saat proses pengolahannya karena kandungan asamnya yang berlebih.
"Misalnya panci buat mengaduknya ya, bukan sembarang panci. Kandungan asam dari belimbing wuluh bisa membuat panci cepat terkikis dan bocor. Jadi perlu panci khusus. Kemudian, air yang digunakan haruslah air yang sudah lulus melalu uji lab, contohnya air mineral Aqua, jadi memang tidak bisa sembarangan air," tutur Sri.
Selain itu juga menggunakan jenis gula yang bagus dan mengenali jenis buah belimbingnya. Saat proses pengapian atau perebusan juga harus diperhatikan.
"Kemudian, ruangan untuk mengolahnya harus steril dari aroma wewangian. Jangan ada asap rokok atau obat nyamuk, dan lain-lain," jelas ibu dari tiga orang anak ini.
Sebenarnya, sebelum pandemi Sri juga pernah mengalami masa-masa sulit. Ketika itu ia jatuh sakit. Produksi pun stop selama satu tahun. Saat itulah ia telah kehilangan kontak para agen dan pelanggannya.
"Usaha ini kan mulainya tahun 2015. Nah sejak mulainya hingga 2017, produksinya bisa mencapai 2500-3000 botol. Sekitar 2017, saya jatuh sakit, produksi pun stop. Paling ya sedikit-sedikit, hanya untuk perorangan, bukan agen. Tahun 2018-2019 saya mencoba bangkit lagi. Mulai dari nol. Produksi sekitar 100- 300 botol perbulannya.
Saat ini Sri memiliki 4 orang pegawai. Ia berusaha bertahan di tengah pandemi. Olahannya pun bukan hanya sirup saja tetapi juga dodol dan selai.
"Belimbing wuluh ini mudah menanamnya. Sejak awal mulai bisnis sirup belimbing wuluh, saya mencoba menjadikan lahan kosong saya sebagai kebun belimbing wuluh. Ada puluhan pohon yang saya tanam di tanah 100 meter."
Bulan April mendatang, produk Sirup Belimbing Wuluh SBB akan disertakan sebagai urusan Dinas Perdagangan Provinsi Banten dalam acara Pameran Investasi, Pariwisata, dan Perdagangan Indonesia.
BERITA TERKAIT: