"Mahal di dunia? Saya rasa tidak. Malah harga listrik kita lebih rendah dari yang tertinggi di dunia. Sama Singapura, Malaysia, kita malah lebih rendah," kata Sekretaris Direktur Jenderal KetenagalistriÂkan Kementerian ESDM Agoes Triboesono di JaÂkarta, kemarin.
Menurut dia, jika ada penelitian tentang perbandingan harga listrik dan menempatkan Indonesia tarifnya paling mahal di dunia, maka penelitian tersebut kurang valid atau belum jelas dalam meliÂhat semua variabel yang dilibatkan. Apalagi secara penawaran infrastruktur tenaga listrik, Indonesia lebih menarik dibandingÂkan dengan negara lainÂnya. Misalnya, di tingkat ASEAN.
"Di ASEAN saja harga kita masih kompetitif, baÂgaimana bisa paling mahal di dunia? Itu tidak valid, tidak benar. Coba saja liÂhat atau cek langsung di sumber-sumber resminya, pasti kita tidak termahal," tegasnya.
Selain itu, pada saat ini kondisi internal Indonesia untuk pengembangan tenaga listrik dinilai lebih bagus daripada periode sebelumnya. Harga jual listrik kepada masyarakat saat ini per Juli 2017 dibanÂderol kisaran Rp 1.352 per kilowatt hours (kWh). Sementara Malaysia memiÂliki harga jual listrik ke masyarakat senilai Rp 1.360 per kWh.
Dibandingkan dengan tarif listrik di Amerika Serikat (AS) yang rata-rata 10,42 dolar AS per kWh, Indonesia masih lebih muÂrah 40 sen atau senilai 10,2 dolar AS per kWh. Tarif dasar listrik non subsidi di Indonesia per Agustus 2017 adalah Rp 1.467,28 per kWh, sedangkan untuk golongan 900 VA yang baru saja mengalami pencabutan subsidi berlaku tarif sedikit lebih rendah, yaitu Rp 1.352 per kWh.
Kepala Satuan Unit KoÂmunikasi Korporat PT PeÂrusahaan Listrik Negara (PLN) I Made Suprateka menilai, tarif listrik di InÂdonesia selalu lebih murah dibandingkan tarif listrik di Malaysia.
"Dari data yang ada, tidak ada tarif listrik Malaysia lebih murah daripada IndoÂnesia," ujarnya.
Menurutnya, tarif listrik rata-rata untuk rumah tangga di Indonesia Rp 1.136 per kWh dan di Malaysia Rp 1.374 per kWh. Untuk bisÂnis, tarif listrik rata-rata di Indonesia Rp 1.149 per kWh dan di Malaysia Rp 1.320 per kWh.
"Sementara tarif listrik untuk industri besar, IndoÂnesia Rp 1.011 per kWh dan Malaysia Rp 1.066 per kWh," ujarnya.
Selain itu, murahnya tarif listrik di Indonesia akan semakin terasa jika melihat faktor demografi. Malaysia memiliki demografi yang sebagian besar merupakan daratan.
"Sementara Indonesia punya ribuan daerah yang terisolasi sehingga harus dibangun pembangkit denÂgan diesel di mana dia adaÂlah energi paling mahal," jelasnya.
Sebelumnya, Direktur
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, pelaku usaha terutama pengusaha tekstil, kerap mengeluhkan tak bisa kompetitif karena tarif listrik yang cukup besar dibandingkan negara pesaing yakni Malaysia dan Vietnam. ***
BERITA TERKAIT: