Ketua Umum Gabungan ElekÂtronik Indonesia (Gabel) Ali Soebroto mengatakan, penjualan barang elektronik tahun ini sulit diprediksi. Bahkan, di beberapa momen-momen tertentu yang seharusnya penjualannya naik malah terjadi sebaliknya.
Misalnya, kata dia, pada momen Tahun Baru, Ramadan dan Lebaran yang biasanya naik penjualan, malah turun. Padahal, sudah banyak program promosi untuk mendongkrak penjualan.
"Permintaan tidak besar dan daya beli konsumen susah diÂnaikkan jadi yang bisa dilakukan maksimal mempertahankan penjualan supaya tidak turun," jelasnya Ali saat dihubungi
Rakyat Merdeka, kemarin.
Ali menjelaskan, kondisi bisÂnis elektronik pada tahun ini sanÂgat berbeda jika dibandingkan dengan lima tahun ke belakang. Misalnya, pada saat perayaan Lebaran, penjualan elektonik bisa naik hingga 40 persen.
Menurut dia, sepanjang kuarÂtal I tahun ini, penjualan elekÂtronik anjlok hingga 10 persen. Pada kuartal II pun, Ali meraÂmal, tetap lesu. "Kalau kita meliÂhat dari kondisi sebelumnya bisa dibilang penjualan pada kuartal II ini nggak ada peningkatan, sama saja," imbuhnya.
Penurunan daya beli tidak hanya pada pasar
offline tapi juga
online. Menurut Ali, penuÂrunan daya beli disebabkan oleh banyak faktor, yang utama adalah sifat konsumen yang mulai memprioritaskan membeli kebutuhan pokok dan menahan berbelanja elektronik.
Lesunya penjualan elektronik, kata Ali, membuat produsen asal Jepang mengalihkan investasÂinya di sektor lain. Langkah itu dilakukan untuk menekan keruÂgian. "Kalau ada yang tumbang, itu kan karena fee dan marginnya kecil," ungkapnya.
Kendati begitu, tidak semua produk elektronik penjualanÂnya turun. Tapi, kondisi ini sangat dikeluhkan oleh pelaku usaha, apalagi bagi mereka yang menyewa pusat perbelanjaan. "Bagi pelaku bisnis tentunya ada bermacam-macam aspek teknologi, biaya, dan lokasi," jelas dia.
Maraknya penutupan toko elektronik juga dikeluhkan KetÂua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey. Dia menilai, kondisi ini lebih disebabkan tingginya biaya sewa yang tak sebanding dengan pemasukan.
"Kalau omzet saja sampai turun, maka untung tidak ada. Gimana mereka bisa bertahan," keluhnya.
Roy membeberkan kalau sekarang ini pihak pengelola mall banyak yang pasang harga biaya sewa tingggi. "Biasanya harga juga akan dinaikkan per lima tahun," ungkapnya
Banyak peritel tak kuat memÂbayar sewa toko atau gerai di mal. Ditambah beban gaji dan iuran lainnya untuk menjual dagangan di toko. Beban makin menjadi jika tulang punggung bisnis yaitu daya beli masyarakat anjlok habis-habisan. Alhasil, pendapatan para peritel khususÂnya kelas menengah ke bawah, semakin terpuruk saja.
"Penyewa toko pilih tutup saja ya karena enggak sesuai dengan modal yang dikeluarkan," ungÂkapnya.
Salahkan PengelolaMenteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menuding, sepinya penjualan di pusat penjualan elektronik Glodok karena penjual dan penÂgelola tidak kreatif. "Makanya poinnya saya sampaikan pusat belanja harus inovatif. Kalau dia statis dengan adanya komÂpetisi, dia seharusnya pindah ke tempat yang lebih baik," kata Enggar.
Menurut politisi Nasdem ini, jika omzet sudah mulai menuÂrun mestinya mereka segera melakukan inovasi untuk kemÂbali meraup pembeli, misalnya dengan mengadakan sebuah event tertentu. "Saya ada Jogja Tronik. Semula jualan turun, susah sekali. Nah bagaimana saya bisa meningkatkan itu, saya bikin event, orang mau tertarik datang ke sana dengan makaÂnan enak. Tempat enak untuk
hang out. Orang ke sana datang pindah. Anda pindah saya kasih gratis dulu," ujarnya.
Meski demikian, kata Enggar, tutupnya kios-kios di Glodok disÂebabkan habisnya masa sewa.
"Ada catatan menarik dia haÂbis masa kontrak. Bisa saja dia perpanjang atau tidak perpanÂjang kemudian dia lihat tempat lain," tuturnya.
Sebelumnya ramai pemberiÂtaan terkait nyaris bangkrutnya pusat belanja elektronik legendÂaris Glodok karena sepi pembeli dalam 5 tahun terakhir. Saat ini, banyak kios yang sudah tutup atau hanya difungsikan sebagai gudang saja. Sepinya pusat belanja rakyat ini juga terjadi di Roxy, Mangga Dua, ITC CemÂpaka Mas, bahkan Tanah Abang yang dipicu oleh perekonomian lesu, terutama dalam setahun terakhir. ***
BERITA TERKAIT: