Anggota Komisi IV DPR, Firman Subagyo menegaskan bahwa LSM asing yang acapkali menyerang industri sawit nasional, perlu dilawan. Untuk itu, pemerintah diharapkan bisa lebih serius dalam membela industri sawit yang terbukti berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
"Saya kira, kampanye hitam dari LSM asing, ada motif bisnis. Ya, harus dilawan," tegas usai seminar sawit yang digelar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Jakarta, Rabu (21/6).
LSM atau NGO asing Yang dimaksud politisi Golkar ini, tentu saja termasuk Mighty Earth asal Amerika Serikat dan AidEnvironment asal Belanda (Eropa) yang rajin menebar informasi miring soal industri perkelapa-sawitan di Indonesia.
"Ke depan, DPR ingin sektor ini dilindungi. Makanya kita dorong lahirnya UU Perkelapa sawitan yang saat ini sedang dibahas di DPR," papar Firman.
Kata Firman, industri sawit memiliki potenai ekonomi yang mumpuni. Dari ekspor sawit, terkumpul devisa sebesar US 20 miliar dolar per tahun.
"Sawit menjadi salah satu potensi pengurangan pengangguran, kelapa sawit juga dapat menjadi jawaban untuk keseimbangan antara Pulau Jawa dengan Luar Jawa", kata Firman.
Ke depan, lanjut Firman, penjualan industri kelapa sawit kepada pihak asing, perlu dibatasi. Namun kata dia, bila yang sudah berjalan tidak ada masalah, terkecuali jika ada yang baru. Adapun UU Perkelapa Sawitan yang dirancang DPR tegas Firman sudah hampir 90 persen rampung.
"Ini harus dikebut kalau tidak kita akan jauh ketinggalan dari Malaysia," kata Firman.
Sementara Ketum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani menegaskan, menyangkut industri kelapa sawit nasional yang menjadi bagian dari Apindo, harus solid dalam melawan kampanye hitam (black campaign) dari LSM asing.
Sri Adiningsih yang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), menyampaikan, industri sawit Indonesia berpeluang menjadi nomor satu di dunia.
"Sawit di Indonesia penting sekali dalam pembangunan di Indonesia. Saya yakin dan sudah melihat sendiri, sawit itu perkembangannya luar biasa. Banyak menyerap tenaga kerja. Apalagi ekspor sawit terus meningkat. Kita menjadi salah satu pengekspor terbesar di dunia. Namun, sampai saat ini, sawit belum sampai diolah sampai ke sektor hilir," papar Sri.
Kata Sri, perkebunan sawit khususnya milik rakyat, belum cukup signifikan karena produktifitasnnya masih rendah. Perkebunan sawit rakyat terhampar cukup luas, namun hasilnya belum maksimal dibandingkan perkebunanan swasta.
Di Papua, pertumbuhan perkebunan kelapa sawit cukup tinggi. Alhasil, perekonomian masyarakat di sana, bergerak positif. Demikian pula peenyerapan tenaga kerjanya cukup tinggi.
Terkait kampanye hitam yang gencar dilakukan asing, Sri menilainya harus dijadikan sebagai tantangan. Itu artinya, Indonesia sebagai penghasil sawit terbesar dan diperhitungkan di dunia dan membuat kompetitor merasa tak nyaman.
"Mau tak mau, mereka melancarkan kampanye negatif, termasuk dengan melibatkan LSM. Ya seperti Mighty Earth dan AidEnvironment," demikian Sri.
[san]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: