Pembangunan Ekonomi Indonesia Tengah Hanya Butuh Waktu Tiga Tahun

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Senin, 29 Mei 2017, 20:12 WIB
Pembangunan Ekonomi Indonesia Tengah Hanya Butuh Waktu Tiga Tahun
Foto/RMOL
rmol news logo Hanya dibutuhkan waktu 2 sampai 3 tahun untuk mewujudkan Poros Ekonomi Indonesia Tengah (PEIT). Target ini bisa diawali dengan membangun PLTD dan PLTG di Kalimantan sebagai buffer.

Demikian ditegaskan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro, yang menggagas sistem ekonomi baru Indonesia Raya Incorporated (IRI). Pernyataan ini diungkapkan dalam Focus Group Discsussion (FGD) yang diadakan LPPM Universitas Sebelas Maret (UNS), Senin (29/5).

Skala pembangunan PLTG menurut Putut, harus semakin besar mengingat sebagian besar BBM saat ini berasal dari impor, sedangkan sumber gas di Kalimantan masih sangat besar.

"Jadi, PLTG ini akan menjadi "jalan pembuka" atau "pecah telor" sebelum PLTU Mulut Tambang dan PLTA terwujud yang nantinya akan menjadi sumber energi listrik di seluruh wilayah ekonomi Indonesia tengah," kata Putut.

Wilayah yang masuk dalam PEIT adalah Kalimantan, Jawa Tengah sampai dengan Nusa Tenggara Timur (NTT).

PTEI merupakan satu dari tiga poros wilayah ekonomi yang diusulkan Putut guna mempercepat pembangunan dan pengembangan ekonomi Indonesia.

Dua poros lainnya adalah Poros Ekonomi Indonesia Barat (PEIB) yakni Kepri- Sumatera-Jawa bagian Barat, dan Poros Ekonomi Indonesia Timur (PEIR) yang meliputi Sulawesi-Maluku sampai dengan Papua.

Menurut Putut, MOU antara Pemerintah Kalteng dan Jateng pada 24 September 2014 harus dilihat secara komprehensif. Hal ini katanya, buian sekedar menarik kabel di bawah laut dari Kalteng ke Jawa Tengah sejauh 300 km, tetapi harus dilihat sebagai terbangunnya wilayah ekonomi secara terintegrasi yang kemudian menjadi poros tengah ekonomi Indonesia.

"Kalimantan itu kaya sumber energi sehingga tidak mengherankan Gubernur Klateng Agustin Teras Narang dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melakukan MOU untuk membangun kabel bawah laut yang menghubungkan kedua provinsi. Kabel ini untuk menarik listrik dari Kalimantan Tengah yang rencananya dengan membangun PLTU Mulut Tambang atau batu bara," ujar Putut.

Hanya saja, menurut Putut, pembangunan PLTU Mulut Tambang memakan waktu lama setidaknya lima tahun. Untuk mempercepat proses pembangunan perlu dibangun pembangkit listrik dengan sumber energi yang sudah ada dan akan bertindak sebagai buffer. Diperkirakan pembangkit listrik buffer ini hanya membutuhkan 2-3 tahun.

"Starting waktu yang sama dengan pembangunan pembangkit listrik buffer, secara paralel akan dibangun PLTU Mulut Tambang, PLTA, kawasan industri berbasis gas berikut sarana dan prasarana yang menunjangnya seperti jalan raya, telekomunikasi, jasa dan lain-lain," ujar Putut yang mantan Penasehat Ahli Kepala BP Migas.

Tahap selanjutnya adalah, dibangunnya konektivitas dan pembangkit listrik terintegrasi seluruh Kalimantan dan Jawa Tengah. Kawasan industri Jawa Tengah sampai NTT akhirnya terintegrasi sebagai satu poros bersama Kalimantan. Sehingga, pembangunan kawasan industri baru Jawa Tengah dilakukan dengan memperkirakan suplai listrik dari Kalimantan terwujud. Dengan demikian, PIET akan bangkit secara bersamaan hingga NTT.

Hanya saja yang perlu dicatat, Putut menegaskan, pembangunan PIET dipercepat dengan konsep IRI karena pada akhirnya segala usaha yang dibangun dalam PIET dimiliki oleh badan usaha daerah yang termasuk dalam wilayah PIET, rakyat dalam PIET dan pada akhirnya seluruh Indonesia. Tanpa konsep IRI akan banyak hambatan yang dihadapi pembangunan jangka panjang Indonesia akibat ego sektoral, ego kedaerahan dan pemerintah terkait dengan kepentingan masing-masing.

"Yang perlu digarisbawahi adalah, jika pembangunan wilayah ekonomi PIET bisa dipercepat, mimpi Presiden Soekarno ataupun Presiden Joko Widodo untuk memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Palangkaraya bisa segera terwujud," tegas Putut.

Namun demikian, Putut mengingatkan, yang paling penting untuk melaksanakan semua rencana adalah political will dalam penetapan kebijakan pemerintah dan penugasan BUMN dan BUMD untuk segera melaksanakan tahapan pembangunan dan pengembangannya.[san]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA