Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan memandang, pernyataan Presiden Prabowo tentang Londo Ireng merupakan kiasan politik yang tidak tertuju kepada individu atau kelompok tertentu secara harafiah.
"Saya melihat pernyataan Presiden Prabowo lebih tepat dipahami sebagai kiasan politik, bukan ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu secara harfiah," kata Iwan kepada
RMOL, Minggu 26 Juli 2026.
Menurutnya, istilah Londo Ireng itu merujuk pada oknum yang cara berpikir, keberpihakan dan atau tindakannya lebih menguntungkan kepentingan asing dibanding kepentingan nasional.
"Istilah “londo ireng” sendiri sudah lama dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai simbol bagi orang-orang yang secara fisik merupakan bagian dari bangsa sendiri," kata Iwan.
"Tetapi cara berpikir, keberpihakan, atau tindakannya lebih menguntungkan kepentingan asing dibanding kepentingan nasional," sambungnya.
Lebih lanjut, Iwan meyakini pernyataan Presiden Prabowo itu tak bisa dilepaskan dengan konteks sikap politiknya, yang menurutnya konsisten mengusung agenda kedaulatan nasional.
Ia mengakui itu lantaran mengamati kebijakan hilirisasi, ketahanan pangan, swasembada energi, penguatan industri nasional, hingga keberanian Presiden Prabowo mengambil kebijakan yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan luar negeri.
"Dalam situasi seperti itu, tentu akan muncul kelompok-kelompok yang secara terus-menerus membangun narasi pesimistis atau bahkan berupaya menggagalkan kebijakan strategis negara," kata Iwan.
"Saya kira Presiden sedang mengingatkan agar elite bangsa tidak menjadi perpanjangan kepentingan eksternal ketika Indonesia sedang berupaya memperkuat posisi tawarnya di tingkat global," demikian Iwan.
BERITA TERKAIT: