"Jumlah uangnya naik luar biasa besar, perbaikannya sangat sedikit. Kualitas manusianya, pendidikan, dan kesehatan nggak meningkat cukup besar. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang belum berubah signifikan di hampir setiap daerah," ungkap Sri Mulyani saat Sosialisasi KeÂbijakan Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) di Jakarta, kemarin.
Ani-panggilan akrab Sri MuÂlyani-mengungkapkan, sampai saat ini pembangunan fasiliÂtas mendasar seperti mandi, cuci, kakus (MCK) belum bisa dinikmati semua daerah. PadaÂhal, fasilitas publik itu sangat menentukan kualitas manusia dan negara. "Kalau MCK saja tidak ada, mustahil anak-anak jadi sehat dan masyarakat jadi produktif. Kalau tidak produkÂtif tentu akan membebani buÂkan saja keluarganya, tapi juga negara," cetusnya.
Dia memaparkan data perÂtumbuhan ekonomi beberapa daerah untuk menggambarkan tingginya ketimpangan sosial di masyarakat. Pertumbuhan ekonomi di Kalimantan sangat rendah yaitu sekitar 2 persen, dengan tingkat kemiskinan 6,5 persen dan tingkat pengangÂguran relatif rendah 1,2 persen. Kemudian, Bali, dan Nusa TengÂgara Timur (NTT) pertumbuhan ekonominya tinggi yaitu 5,9 persen, tingkat pengangguran relatif rendah dibandingkan nasional yaitu 3 persen. Namun tingkat kemiskinan sangat tinggi mencapai 14,7 persen. Dan, Papua memiliki pertumbuhan relatif lebih tinggi dibandingÂkan Kalimantan, tapi tingkat kemiskinan sangat tinggi yaitu 22 persen dan tingkat pengangÂguran 5,5 persen.
Seperti diketahui, dana transÂfer daerah ke seluruh provinsi Indonesia pada 2010 jumlahÂnya mencapai Rp 344,6 triliun, dengan IPM sebesar 56,53, dan tingkat kemiskinan 13,33. SeÂmentara pada 2015 dana transfer ke provinsi mencapai Rp 623, 3 triliun, dengan IPM 59,55 dan tingkat kemiskinan 10,7.
Ani mengatakan, dari alokasi anggaran, capaian pertumbuhan ekonomi dan IPM tersebut, ada indikasi kuat krisis manajemen dan kepemimpinan di pemerinÂtahan. Salah satunya disebabkan korupsi dan tata kelola negara yang tidak baik.
"Saya pernah kunjungi Afrika, saya tidak heran kalau banÂyak kemiskinan karena mereka tidak punya uang. Indonesia itu banyak uang, tapi banyak yang miskin. Uang kita semakin lama semakin banyak, tapi enggak mencerminkan kualitas indeks manusianya," tandasnya. ***
BERITA TERKAIT: