Pemerintah memanfaatkan dengan optimal kedatangan Raja Arab Saudi Salman AbduÂlaziz dan rombongan ke Tanah Air. Setelah dapat komitmen kerja sama investasi pengemÂbangan kilang Cilacap, peÂmerintah menawarkan proyek kilang Dumai dan Balongan. Hasilnya,
Arabian Oil Company (Aramco) juga menyampaikan ketertarikannya.
"Kilang Balongan sedang dibicarakan Saudi Aramco denÂgan Pertamina," ungkap Menteri Energi dan Sumber Daya MinÂeral (ESDM) Ignasius Jonan di Jakarta, kemarin.
Aramco sebenarnya sempat melakukan penjajakan kerja sama dengan Pertamina untuk mengembangkan kilang BalonÂgan. Kerja sama itu batal setelah
Head of Agreeement (HoA) tidak kunjung ditandatangani hingga melewati batas waktu yang ditentukan pada 26 November 2016. Kerja sama itu batal karena ada miskomunikasi. Pertamina ingin proyek modifikasi kilang Balongan dipercepat 2 tahun, dari semula diperkirakan selesai pada 2022 menjadi 2020.
Selain Aramco, pada akhir 2016, Iran juga menyampaikan ketertarikannya untuk investasi bangun kilang Balongan. Namun, belum ada pembicaraan lanjutan.
Untuk kilang Cilacap, Jonan menjelaskan, Pertamina dan Aramco telah membentuk peruÂsahaan patungan (
Joint Venture) dengan nilai investasi mencapai 6 miliar dolar AS.
Dirjen Migas Kemeterian ESÂDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengungkapkan, selain kilang, pemerintah berharap ada kerja sama kerja lain di sektor energi dengan Arab Saudi.
Menurutnya, pemerintah terÂbuka jika Arab mau mengelola blok migas di Tanah Air. SebaÂliknya, Indonesia juga siap bila diberikan kesempatan mengelola lapangan migas di Arab Saudi.
"Pemerintah ingin meningÂkatkan cadangan migas. Kami lebih berharap jika Pertamina bisa akuisisi ladang minyak di sana," terangnya.
Potensi kerja sama lain, lanjut Wiratmaja, terkait pembentukan cadangan minyak strategis (
StraÂtegic Petroleum Reserve /SPR) nasional. Indonesia berharap, Arab Saudi menaruh minyaknya yang ingin didistribusikan ke Asia Pasifik, di Indonesia.
Suntik 1 Miliar Dolar AS Kesepakatan lain yang didapÂatkan dari pertemuan pemerintah dengan Raja Salman adalah Saudi Fund akan mengucurkan dana sebesar 1 miliar dolar AS di Indonesia. Tidak dijelaskan dalam
Memorandum of UnderÂstanding (MOU) akan digunakan untuk apa saja dana tersebut.
Menteri Keuangan Sri MulyÂani menjelaskan, dana tersebut baru sebatas komitmen investasi. Menurutnya, banyak pilihan yang bisa disepakati kedua belah pihak untuk kerja sama.
"Implementasinya nanti kita akan lihat bagaimana kriteria yang dia mau, bagaimana pendanaan itu juga akan cocok bagi kita. Saya rasa kita akan manfaatkan secara baik," jelas Ani, sapaan Sri Mulyani.
Dia menilai, Saudi akan mengÂgunakan dana tersebut untuk bisÂnis non oil seperti pembangunan dan promo perdagangan.
Terkait rombongan Raja SalÂman, kemarin, para pengusaha asal Arab, melakukan pertemuan dengan pengusaha dari Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Ketua Penyelenggaran IndoÂnesia-Saudi Arabia Business Forum Mohammad Bawazeer mengatakan, pertemuan penguÂsaha dari kedua negara bertujuan mempererat komunikasi.
"Dengan melakukan dialog, diharapkan lebih banyak tranÂsaksi dari interaksi bisnis yang dihasilkan pengusaha kedua negara," tutur Bawazeer
Dia menyebutkan dialog diÂfokuskan membahas bidang miÂgas, pertambangan, infrastruktur, properti, kesehatan, pariwisata, pemasaran, logistik dan pendidiÂkan. Pada acara ini, kedua belah pihak melakukan penandatanÂganan MOU untuk mendirikan Indonesia Saudi Arabia Business Council. ***
BERITA TERKAIT: