Ketua Umum Asosiasi PertekÂstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat berharap, kedatangan Raja Salman dimanfaatkan peÂmerintah untuk meningkatkan kerja sama ekspor. Sebab, saat ini ekspor tekstil ke Arab Saudi masih kecil.
"Kita pengusaha maunya bisa lebih besar dari sekarang," ujarnya kepada
Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Dia mengakui, pasar tekÂstil Arab Saudi sangat besar. Apalagi, negara tersebut setÂiap tahunnya dikunjungi oleh jutaan orang untuk melakukan ibadah Haji dan Umrah. "Kalau bisa lebih besar nilainya tentu akan menguntungkan kita," ujarnya
Menurut Ade, selama ini penÂgusaha nasional kesulitan untuk masuk pasar Arab. Sebab, negeri tersebut mempunyai aturan yang ketat untuk barang-barang impor dari negara lain.
"Yang kesulitan ternyata stanÂdar di sana itu tinggi di Timur Tengah. Jadi kalau mau ekspor barang itu harus menyesuaikan akibatnya banyak barang yang tidak masuk," ujar Ade.
Maka tidak heran, bila nilai ekspor tekstil Indonesia ke Arab Saudi saat ini terbilang cukup kecil. Padahal Arab Saudi meruÂpakan salah satu mitra dagang potensial Indonesia di kawasan Timur Tengah. "Arab Saudi akan menjadi pembuka bagi kita ekspor tekstil ke Afrika," tukasnya.
Hal senada dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi PengusaÂha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. Menurutnya, kedaÂtangan Raja Salman harus diÂmanfaatkan oleh pemerintah dan pengusaha untuk meningkatkan ekspornya ke Arab Saudi.
Menurut Hariyadi, selama ini ekspor ke Arab Saudi banyak produk makanan dan minuman (mamin). Padahal, masih banyak produk-produk Indonesia lainÂnya yang berpeluang masuk ke pasar Arab Saudi.
"Kita sudah mempunyai serÂtifikat halal. Mudah-mudahan tidak hanya makanan dan miÂnuman saja nanti ke depan bisa membuka peluang untuk produk lain," ujarnya.
Menurut dia, sertifikasi halal yang diberikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan memuÂluskan produk dalam negeri diterima Arab Saudi. Misalnya, kosmetik dan tekstil. "Produk-produk yang sudah memiliki sertifikasi halal itu menjadi fokus utama ekspor ke Arab," kata Hariyadi.
Dia optimistis, kerja sama ekonomi yang dilakukan peÂmerintah Indonesia dengan Arab Saudi akan berdampak pada peningkatan perdagangan kedua negara. "Karena itu, pemerinÂtah jangan mensia-siakannya," jelasnya.
Ketua Apindo Bidang HubunÂgan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani mengaÂtakan, saat ini pihaknya memang sedang menyarankan anggotanya untuk menjual produknya ke pasar-pasar nontradisional sepÂerti Timur Tengah dan Afrika.
"Kita perlu memperkuat pasar ke Timur Tengah karena pasar yang biasa mereka sasar potenÂsial sekali, contohnya
Middle East, terutama produk halal kita. Juga Afrika,
opportunity-nya sangat besar," katanya.
Direktur Keuangan PT IndusÂtri Jamu dan Farmasi Sido MunÂcul Venancia Indrijati mengataÂkan, perseroan sudah melempar produknya ke negeri minyak tersebut. Meski sudah ekspor ke Arab Saudi, tapi jumlahnya masih minim.
Menurut dia, nilai ekspornya masih kurang dari 5 persen dari total ekspor produk Sido Muncul. "Kita berharap, kunÂjuangan Raja Salman bisa bisa memperbesar angka penjualan itu dalam beberapa tahun ini," ujarnya.
Ia mengakui, sejauh ini produk Sido Muncul memang ditujukan bagi warga negera Indonesia yang bertugas di Arab Saudi. Namun, perseroan secara berÂharap secara perlahan produk Sido Muncul bisa diterima warÂga asli Arab Saudi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai total perÂdagangan nonmigas Indonesia- Arab Saudi periode 2011-2015 memperlihatkan pertumbuhan positif sebesar 3,89 persen per tahun. Rata-rata nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi pada periode 2011-2015 tercatat sebesar 1,83 miliar dolar AS per tahun.
Sementara itu, rata-rata nilai impor nonmigas Indonesia dari Arab Saudi tercatat sebesar 921,23 juta dolar AS per tahun pada periode yang sama. Neraca perdagangan nonmigas kedua negara mengalami surplus 29,84 persen pada 2015. ***
BERITA TERKAIT: