"Melalui proyek ini, PertamiÂna diharapkan bisa mendukung program Nawacita Presiden Jokowi, sebagai upaya meningkatkan program kemandirian energi dengan mengurangi imÂpor BBM," tutur Direktur Mega
Project Refinery & PetrochemiÂcal Rachmad Hardadi dalam keterangan tertulis, kemarin.
Ia menjelaskan, para calon investor yang berminat menÂjadi mitra dapat mendaftar selambat-lambatnya pada 24 Februari 2017 melalui grrbonÂ
[email protected]. PemiÂnat harus mengirimkan detail identitas, seperti nama, jabatan, dan alamat email beserta profil perusahaan dalam format pfd.
File yang dikirim maksimum berukuran 10MB. Tempat dan waktu akan disampaikan keÂmudian pada para peserta yang mendaftarkan diri.
"Sebagai mitra, Pertamina berharap ada konsorsium yang terdiri dari perusahaan migas, trader, lender serta investor internasional dan lokal yang diketuai perusahaan migas sebaÂgai strategic partner," tuturnya.
Adapun persyaratannya a.l konsorsium mitra harus memÂpunyai jejak rekam yang kuat di industri refinery, terutama dalam hal pelaksanaan proyek serta operational excellence, harus sesuai dengan model bisnis Pertamina, serta memiÂliki komitmen untuk memÂpercepat dan merampungkan proyek pada 2023.
"Kami berharap agar kemiÂtraan yang nantinya terbentuk, dalam pengambilan keputuÂsan harus tetap memperhaÂtikan aspek
good corporate governance yang kuat, juga mengedepankan Indonesia content, sambil tetap menjaga kelangsungan bisnis. Hal yang merupakan kelaziman jika berhubungan dengan BUMN di setiap negara," paparnya.
Ia tidak menampik akan adanya modal asing mengingat besarnya kebutuhan investasi proyek tersebut. Adapun inÂvestasi GRR Bontang diperkiraÂkan berkisar 12-15 miliar dolar AS dan ditargetkan mampu mengolah minyak mentah seÂbanyak 300 ribu barel per hari.
"Konsorsium yang terbenÂtuk dapat berperan dalam pengadaan crude atau bahan baku dan menyiapkan pendanaan. Mitra juga diharapkan dapat memasarkan produk yang tidak terserap di dalam negeri dengan mengekspornya ke pasar luar negeri seperti Australia, PNG, Selandia Baru, dan Filipina," jelasnya.
Hingga saat ini, Pertamina sudah mempunyai pengalaman positif dalam bermitra dengan pihak luar. Sebut saja, kerÂjasama dengan SK Energy dari Korea Selatan dalam kegiatan kilang yang menghasilkan peÂlumas katagori Lube Base Grup III (pelumas sintetis) sejak 2007 di kilang RU II Dumai, Rosneft untuk kilang baru TuÂban, serta Saudi Aramco untuk RDMP Kilang Cilacap.
Untuk tahap awal, Pertamina akan masuk dalam proyek kilang Bontang dengan minimal kepemilikan sekitar 5-25% dan selanjutnya memÂpunyai hak atau pilihan untuk meningkatkan kepemilikan dalam periode yang akan disepakati kemudian.
Pertamina akan melakukan project expose pada 28 FebruÂari 2017 terkait rencana kemiÂtraan untuk merealisasikan GRR Bontang. Dalam kesemÂpatan tersebut, Pertamina akan menyampaikan rencana awal pengembangan proyek, profil proyek serta konsep awal dari struktur dan model bisnis yang akan diterapkan.
Pelaksanaan pembangunan kilang baru di Bontang ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Menteri ESDM no. 7935 K/10/MEM/2016 tanggal 9 Desember 2016 yang menuÂgaskan Pertamina untuk memÂbangun dan mengoperasikan kilang minyak di Bontang.
Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, proses seleksi miÂtra dipercepat setelah penugasan pemerintah kepada Pertamina melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 7935 K/10/MEM/2016.
"Harapan kami, partner Pertamina untuk kilang BonÂtang bisa didapatkan pada April 2017. Untuk itu, kami sedang mempersiapkan beÂberapa langkah bisnis demi mengakomodasi hal tersebut," ujarnya, di Jakarta. ***
BERITA TERKAIT: