Jasa Marga Bongkar Gardu Tol Karang Tengah Mulai April 2017

Urai Antrean Panjang

Senin, 20 Februari 2017, 08:56 WIB
Jasa Marga Bongkar Gardu Tol Karang Tengah Mulai April 2017
Foto/Net
RMOL.  PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) selaku pengelola Jalan Tol Jakarta-Tangerang, bersama dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) lain yaitu PT Marga Mandala Sakti (MMS), selaku pengelola Jalan Tol Tangerang- Merak, terus mematangkan per­siapkan pemberlakuan integrasi sistem transaksi antara kedua ruas jalan tol tersebut.

Asistent Vice President Cor­porate Communication PT Jasa Marga (Persero) Tbk Dwimawan Heru mengatakan, integrasi sistem transaksi diharapkan dapat mengatasi kepadatan khususnya antrean Gerbang Tol Karang Ten­gah dan meningkatkan pelayanan kepada pemakai jalan tol.

"Ke depan kita juga akan me­niadakan Gerbang Tol Karang Tengah. Sebagai konsekue­nsi ditiadakannya transaksi, Jasa Marga saat ini sedang melakukan pembangunan konstruksi ger­bang tol dan gerbang tol on/off ramp, di beberapa lokasi," kata Heru kepada Rakyat Merdeka.

Dilanjutkannya, gerbang tol yang dibangun antara lain, Karang Tengah Barat, Alam Sutera, Tangerang, Karawaci, dan Bitung. Jumlah gerbang tol yang sedang dibangun saat ini adalah 11 gerbang dengan total 51 gardu tol, dimana dari seluruh gardu tol tersebut, 28 di antaranya adalah Gardu Tol Otomatis (GTO).

Heru mengatakan, pemban­gunan konstruksi ini ditargetkan dapat selesai bulan April 2017. Saat ini Jasa Marga juga dalam proses untuk mengadakan sarana prasarana peralatan tol untuk seluruh gerbang tol yang sedang dibangun tersebut.

Dengan adanya integrasi terse­but, maka nantinya terdapat dua sistem transaksi dan pentarifan, di Jalan Tol Jakarta-Tangerang- Merak terintegrasi, yaitu: Ja­karta-Tangerang-Cikupa meng­gunakan sistem Terbuka dengan pentarifan merata (Tomang sampai dengan Cikupa). Semen­tara untuk Cikupa-Merak meng­gunakan sitem Tertutup dengan pentarifan proporsional (Cikupa sampai dengan Merak).

Heru mengatakan, terkait rencana perubahan sistem pem­bayaran tol yang dilakukan di Tomang hingga Cikupa (meng­gunakan sistem terbuka atau satu harga), pihak Jasa Marga melakukan koordinasi den­gan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sehingga nantinya tarif yang diberlakukan akan diten­tukan bersama dengan Kemen­terian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

"Kewenangan ada di BPJT, kita akan koordinasikan harg­anya. Saat ini kami masih fokus pada upaya untuk mempersiap­kan pekerjaan pembongkaran gerbang tol dan integrasi ruas tol Jakarta Tangerang, karena kan ada badan usaha lain selain Jasa Marga. Upaya pembongkaran ini sebagai upaya perseroan un­tuk meningkatkan pelayanan," tegas Heru.

Seperti diketahui, Jasa Marga beserta Marga Mandala Sakti akan memberlakukan integrasi sistem transaksi di Jalan Tol Jakarta-Tangerang dan Jalan Tol Tangerang-Merak mulai April 2017. Dengan adanya in­tegrasi sistem transaksi tersebut, maka Gerbang Tol (GT) Karang Tengah akan ditiadakan seh­ingga pengguna jalan tol hanya berhenti di satu gerbang untuk transaksi, yaitu di GT Cikupa.

Jasa Marga menilai, GT Karang Tengah merupakan salah satu gerbang tol utama yang digunakan para pengguna jalan dan commuter di wilayah Jakarta untuk menuju ke arah barat Ja­karta atau sebaliknya.

Karena peran strategisnya men­jembatani lalu lintas dari dua kota besar yaitu Jakarta dan Tangerang, pada saat jam sibuk, kepadatan di GT Karang Tengah cukup panjang dan kerap mencapai lebih dari 10 kilometer (km), karena itu, peniadaan GT Karang Ten­gah diharapkan bisa mengurangi kemacetan di ruas tersebut.

Jangan Sampai Merugikan

Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan mengatakan, penentuan tarif untuk gerbang tol yang menggunakan sistem terbuka harus dilakukan den­gan perhitungan yang matang agar tidak merugikan pengguna jalan tol.

"Pengguna harus bayar den­gan harga sama meski jaraknya dekat atau jauh. Maka dari itu, penentuan tarif harus jelas, jan­gan sampai merugikan. Selain itu, pengelola jalan tol juga harus memperhatikan pelayanan agar lebih baik, sesuai dengan uang yang dikeluarkan masyarakat untuk membayar tol," kata Azas kepada Rakyat Merdeka.

Ia juga meminta pengelola jalan tol memberi tarif yang ter­jangkau untuk kendaran umum. Dengan begitu, semakin banyak kendaraan umum yang lewat jalan tol dan mengurangi kepa­datan di jalan non tol.

"Kalau waktu tempuh dengan kendaraan umum jadi lebih singkat karena lewat tol, tentu semakin banyak masyarakat yang naik kendaran umum. Ini akan mengurangi kemacetan juga," tegas Azas. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA