Banyak Maling Ikan, Populasi Tuna Susut

Sabtu, 18 Februari 2017, 08:24 WIB
Banyak Maling Ikan, Populasi Tuna Susut
Foto/Net
rmol news logo Kerugian akibat pencurian ikan di laut Indonesia tidak bisa diukur lagi dengan materi. Pasalnya, kejahatan tersebut tidak hanya melanggar kedaulatan, namun menyebabkan punahnya ikan jenis tuna.

Kepala Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar mengung­kapkan, kegiatan penangka­pan ikan di dunia mengalami over eksploitasi. Sehingga, jika tidak dilakukan antisipasi maka perikanan di wilayah Indonesia akan terancam.

"Kebutuhan ikan naik, dan kompetisi menangkap ikan kian tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, saya setuju den­gan pandangan banyak orang bahwa tuna kita terancam," ujar Zulficar dalam diskusi ber­tajuk Tuna Indonesia Dalam Ancaman, Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, ikan tuna merupakan jenis ikan yang harus dikelola penangkapannya. Karena, tuna jenis ikan yang mudah berpindah-pindah.

Menurut Zulficar, pencurian dan penangkapan ikan dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan menjadi penyebab permintaan ikan dunia meningkat. Karena, populasi ikan alami penurunan.

Dia menegaskan, pemerin­tah akan terus memberantas kapal maling ikan di Indonesia. Meskipun, banyak dari mereka yang telah ditenggelamkan tetapi tidak kapok.

"Kapal ilegal yang melaku­kan penangkapan di perai­ran Indonesia sangat banyak. Jumlahnya mencapai ribuan. Tapi kami konsisten akan terus menenggelamkan kapal-kapal asing yang beroperasi secara ilegal," ungkapnya.

Dia menyebutkan dalam waktu dekat ini akan meneng­gelamkan 90 kapal asing ilegal lagi. Kapal itu hasil peninda­kan periode Agustus hingga Desember 2016.

Sementara Peneliti KK dan Koordinator Nasional Tim kajian Tuna pada the Western and Central Pacific Fisheries Commission dan Indian Ocean Tuna Commis­sion (IOTC) Fayakun Satria mengatakan, terdapat tiga jenis tuna yang menjadi khas tangkap di perairan Indonesia yaitu jenis Skipjack, Yellow­fin, dan Bigeye. Menurutnya, populasi jenis tuna Yellowfin yang paling rawan.

"Untuk Yellowfin tuna ha­sil tangkapan 407.500 ton, sementara potensi lestarinya 406.000 ton. Jadi potensi itu, jumlah ikan yang ada di laut itu indukannya itu 406.000 ton. Jadi yellowfin sudah dalam tahap merah, yaitu berlebihan ditangkapnya," katanya.

Fayakun mengatakan, menu­runnya jumlah populasi tuna disebabkan maraknya pencuri­an ikan. Sementara untuk tuna jenis Skipjack, menurutnya, masih dikategorikan aman.

Dia mendukung langkah pemerintah memberantas kapal pencuri ikan. Karena, menjaga kedaulatan negara merupakan langkah penting untuk negara bisa memanfaatkan sumber dayanya sendiri.

Sebelumnya, Menteri Ke­lautan Dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyampaikan pemerintah menambahkan anggaran untuk memperkuat pemberantasan pencurian ikan. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA