BUMN energi tersebut tetap berminat membangun pembangkit listrik dengan kapasitas 2x800 megawatt (MW) dan melanjutkan proses tender meskipun pasokan gas tidak akan lagi disediakan pemenang tender.
"Ya kami akan terus," ujar Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto di Jakarta, Jumat (24/6).
Dia mengaku tidak keberatan, meskipun dalam proses lelang PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengubah skema penyediaan energi primer. Perubahan tersebut adalah penyediaan energi primer yang sebelumnya dilakukan produsen listrik swasta (independent power producer /IPP) pemenang tender sekarang disediakan oleh PLN.
Dwi bahkan berharap bahwa gas yang disediakan oleh PLN memiliki harga yang kompetitif.
"Tidak apa, kan kami nanti lihat gas dari PLN kompetitif atau tidak," katanya.
Sebagaimana diketahui, PLN mengubah konsep lelang, hanya beberapa waktu sebelum lelang dibuka 25 Juli mendatang. Atas perubahan tersebut, Pertamina sempat melayangkan surat kepada PT PLN pada 13 Mei. Pertamina keberatan jika PLN memutuskan untuk mengubah skema lelang, lantaran persiapan konsorsium untuk mengikuti lelang pembangkit berikut pasokan gasnya akan ikut berubah, terlebih Pertamina sudah menggandeng Total Gas.
Pertamina telah mempersiapkan diri mengikuti lelang tersebut. Selain telah membentuk konsorsium dan bertindak sebagai ketua. Dalam konsorsium tersebut, Pertamina menggandeng Marubeni Corporation, General Electric sebagai penyedia teknologi, serta Total Gas & Power untuk membantu sebagai pemasok gas.
Untuk membangun pembangkit tersebut, Pertamina telah menyiapkan investasi USD 2 miliar. Investasi tersebut sudah termasuk pembangunan unit penyimpanan dan regasifikasi gas terapung (floating storage regasification unit/FSRU). Untuk kebutuhan dana sebesar 70 persen akan berasal dari pinjaman, sedangkan 30 persen sisanya merupakan ekuitas perseroan.
[wah]
BERITA TERKAIT: