"Industri telekomunikasi di Indonesia sudah bersifat terbuka dan dasarnya mekanisme pasar sehingga setiap pemain mesti harus pandai mengatur strategi. Hal yang penting tetap mematuhi ketentuan perundangan dan norma yang berlaku. Saya lihat Telkom Group sudah melakukan itu semua," kata Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono di Jakarta, Kamis (23/1).
Menurutnya, hal yang wajar Telkom mendukung Telkomsel karena masih dalam satu grup. "Mengutamakan Telkomsel itu hal yang wajar dan dalam menyikapi persaingan dengan memilih mitra bisnisnya juga masih wajar. Kalau itu menyulitkan pesaing ya bisa terjadi dan lumrah terjadi. Itulah
best practice di industri, jadi tidak dapat dikatakan monopoli atau
unfair treatment," katanya.
Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Triana Mulyatsa mengatakan keunggulan Telkomsel atau Telkom dari pesaingnya sekarang karena konsisten dalam berinvestasi untuk memperluas jaringan.
"Kunci kemenangan di telekomunikasi itu
coverage,
capacity, dan
quality service. Kenapa
coverage yang pertama, karena kudu ada wilayah layanan baru bisa masuk pasar. Bicara
coverage ya bangun dong
backbone,
backhaul, hingga akses. Masa mau bangun akses doang, terus maksa-maksa dikasih sewa," paparnya.
Dijelaskannya, untuk kawasan timur Indonesia, pesaing Telkom Group pernah memiliki kesempatan membangun backbone secara murah melalui konsorsium Palapa Ring beberapa tahun lalu. Tetapi, konsorsium itu bubar karena beranggapan investasi di daerah timur Indonesia tak layak secara ekonomi.
"Anggota konsorsium itu ada Telkom, Indosat, XL, dan lainnya. Mereka yang mundur, Telkom akhirnya bangun sendiri dan terus berlanjut untuk menjadikan Indonesia global hub. Sekarang teriak-teriak ada ketidakadilan, ini namanya lupa sejarah. Jika kalah bersaing dan tidak mampu menghadapi kompetisi sebaiknya mundur saja jangan menjadi provokator," tandasnya.
Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno menegaskan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah memberikan dukungan yang sama kepada semua operator telekomunikasi untuk mengembangkan usahanya.
"Dukungan yang diberikan kepada Telkomsel dan Telkom sebagai perusahaan BUMN sejauh ini juga masih dalam batas yang wajar. Buktinya, tidak ada tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) bagi dua perusahaan pelat merah tersebut. Kalau monopoli segala macam, apa yang mau dimonopoli? Semua sudah sama," kata dia.
Dia menyarankan agar bisa bersaing dengan Telkom Group, pemilik Indosat menyuntikkan dana untuk membangun jaringan. "Harusnya Indosat melakukan sesuatu agar bisa berkembang," kata Harry.
Seperti diketahui, tudingan Telkom Group melakukan diskriminasi dalam berbisnis dilontarkan oleh CEO Indosat Alexander Rusli karena gagal dalam negosiasi sewa backbone di Maluku. Indosat beralasan kapasitas terbatas dan mengutamakan digunakan oleh Telkomsel. Tak hanya itu, Indosat juga menuding tak diperlakukan secara adil dalam negosiasi untuk pembukaan interkoneksi sehingga sulit bersaing di luar Jawa.
[rus]
BERITA TERKAIT: