Penandatanganan tersebut merupakan tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) antara PT PBAS dan Inpex Australia Pty Ltd pada 15 Oktober 2014 lalu. Melalui MoU, PBAS memberikan pendampingan dan bantuan kepada Inpex dan afiliasinya dalam beberapa aspek, seperti pelatihan operator LNG, bantuan untuk commissioning dan start up plant LNG, termasuk plant readiness untuk start up, jasa operasi dan pemeliharaan, jasa asistensi teknis, dukungan tenaga kerja, dan jasa lain.
"Penandatanganan kontrak Implementation Deed untuk Manpower Support merupakan salah satu bentuk implementasi dari kerja sama yang sudah dijalin antara PBAS dan Inpex, di mana pekerja PBAS akan menjadi secondee untuk Inpex. Kepercayaan Inpex kepada PBAS merupakan kebanggaan bagi Pertamina sebagai induk perusahaan, dan juga bangsa Indonesia di mana keahlian, pengalaman, dan reputasi Pertamina dan afiliasinya di bisnis LNG semakin diakui dunia," jelas Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro kepada redaksi di Jakarta, Minggu (24/4).
Dia menjabarkan, PBAS yang kini telah mendirikan anak usaha di Australia, yaitu Patra Badak Arun Solution Pty. Ltd. hingga kini telah mengirimkan 11 tenaga LNG-skilled dari Indonesia, baik operator maupun engineer untuk ditempatkan di proyek Ichthys LNG di Australia. INPEX Corporation adalah pemegang share terbesar di proyek Ichthys LNG yaitu sebanyak 62.245 persen. PBAS dengan dukungan dari Pertamina, PT Badak NGL, dan PT Arun NGL yang telah mengoperasikan kilang Badak LNG dan kilang Arun LNG selama lebih dari 40 tahun diharapkan dapat mendukung kegiatan operasi di proyek Ichthys.
PBAS juga telah menjalin kerja sama dengan UGL Limited, perusahaan services Australia untuk melakukan penetrasi pasar di negara itu, Indonesia dan Asia Pasifik.
"Dengan kerja sama PBAS, Inpex, dan UGL diharapkan tidak sekadar dimaknai sebagai kerja sama business to business. Namun juga kerja sama antar negara yaitu Indonesia, Jepang, dan Australia," demikian Wianda.
[wah]
BERITA TERKAIT: