Pertama, pariwisata adalah sektor yang paling cepat bisa bergerak, paling kelihatan dampaknya dan paling heboh mengundang perhatian publik. Aktivitasnya pun paling fleksibel, bisa di mana saja, kapan saja, tidak mengenal musim. Dalam peta kerjasama bilateral, pariwisata itu semacam kail yang baik, pelepas umpan yang memikat, dan ketika sudah terjalin, bisa menjadi lem perekat yang menyatukan kedua bangsa.
Dalam pertemuan bisnis, agar tidak terasa berat, tidak kaku, tidak canggung diperlukan suasana.†Atmosfer yang men-suasanakan†itulah, dunia dan wilayah garapan pariwisata. Dari soal meja kursi yang nyaman untuk duduk berlama-lama, taman yang sedap dipandang mata, makanan-minuman yang menggugah selera, dekorasi interior eksterior yang punya teste, singkat kata:
hospitality!Bisa jadi, materi perbincangan yang disuasanakan itu akhirnya mengerucut ke tema pariwisata juga. Tidak menutup kemungkinan, mereka tertarik menanamkan investasi di sektor pariwisata.
"Kita sangat terbuka! Kita punya 10 destinasi unggulan, yang harus diramaikan dengan investor baru, selain tiga
greater Bali-Jakarta-Batam. Kita juga punya 25 area yang hendak dibangun sebagai kawasan strategis pariwisata dan kawasan ekonomi khusus pariwisata," jelas Menpar Arief Yahya.
Ke-10 destinasi unggulan itu, antara lain Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Pulau Seribu DKI, Boborudur Jateng, Bromo Jatim, Mandalika Lombok, Morotai Malut, Wakatobi Sultra, dan Labuan Bajo Komodo NTT. Di berbagai forum, baik di dalam maupun di luar negeri, Menpar Arief Yahya selalu mempromosikan 10 lokasi itu buat investor.
Dengan begitu, posisi Kemenpar bisa menjadi 'kail' yang baik untuk menarik 'ikan-ikan', juga bisa menangkap ikan†itu sendiri dengan prospek bisnis pariwisata yang sedang bergairah.
Pekerjaan pariwisata, tidak sekedar menambah volume dan frekuensi orang Italia yang berkunjung ke Indonesia, tetapi sekaligus memasarkan investasi bisnis berbasis pariwisata di tanah air. Entah itu hotel,
resort, atraksi turisme, dermaga marina, pelabuhan, kapal pesiar, maupun kawasan khusus pariwisata.
"Itulah pariwisata, yang luwes, fleksibel, cepat, lincah dan bisa dirasakan gregetnya," kata Arief Yahya.
Seperti diketahui, message Presiden Jokowi, soal hubungan bilateral Indonesia Iralia itu menyangkut tiga sektor. Yakni politik, ekonomi dan social budaya. Di bidang politik lebih banyak ke arah
interfaith dialogue. Sedang di ekonomi, bisa melebar meliputi perdagangan, investasi, industry kreatif, kemaritiman, infrastruktur, dan energi. Begitupun soal sosial budaya, itu termasuk di dalamnya pendidikan dan pariwisata.
MoU yang ditandatangi Menpar Arief Yahya-Menpar Italia Federica Guidi di hadapan kedua pemimpin kedua negara itu selain menegaskan kemitraan secara tertulis, juga bermakna strategis. Pariwisata harus cepat menangkap peluang ini dan segera actions untuk kerjasama yang konkret.
"Ada lima poin di MoU Indonesia-Italia itu. Kami akan segera tidaklanjuti di level teknis," kata dia.
Pertama, kerjasama di bidang pemasaran dan promosi pariwisata, di forum pameran internasional kedua negara. Lalu peningkatan perjalanan kedua negara secara perseorangan atau group, kerjasama MICE â€" meeting, incentives, conferences, dan expo. "Baik Italia maupun Indonesia, sama-sama gencar dalam promosi dan pemasaran, jadi bisa dicari konektivitasnya," katanya.
Kedua, kerjasama pengembangan produk, riset, kajian, dan promosi bersama, baik destinasi konvensional, ataupun tidak konvensional. Tukar pengalaman, bagi informasi, kunjungan pengkajian dan perbandingan itu menjadi penting. Italia puya banyak objek heritage, sisa-sisa kejayaan Zaman Romawi yang paling berkuasa di Eropa kala itu. Artefaknya juga tersebar di banyak kota, seperti Colosseum, Menara Pisa, Kota Air Venezia, berbagai arsitektural Roma, patung-patung peninggalan Michael Angelo, Pablo Picaso, dan lainnya.
Di ibu kota Italia, Roma, juga ada negara kecil, Vatikan, yang menjadi kiblat bagi umat Katolik di seluruh dunia. Jutaan wisatawan multietnis,
multicultural, multireligi datang ke sana setiap tahunnya. Indonesia punya artefak Borobudur, punya sejarah Majapahit dan Sriwijaya, punya jejak-jejak Laksamana Cheng Ho, yang semuanya berada di pesisir Bahari.
"Di sektor pariwisata, harus jujur Indonesia perlu banyak waktu untuk belajar dari Italia," ujar Menpar.
[wid]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: