Penyebabnya, ada banyak. Salah satunya, harga jual premium yang sampai saat ini masih di bawah keekonomian.
"Harga beli dan biaya produksi rata-rata premium dalam enam bulan terakhir maupun tiga bulan terakhir masih lebih tinggi daripada harga jual yang ditetapkan Pemerintah," kata Sudirman saat dikontak redaksi tadi malam (Minggu, 11/10).
Pemerintah baru-baru ini hanya menurunkan harga BBM jenis Solar. Awalnya, Solar berada di angka Rp 6900, lalu turun Rp 200 menjadi Rp 6700.
Menurut Sudirman, dengan tidak diturunkannya harga premium maka penurunan harga minyak dunia dan perbaikan kurs rupiah memberi kontribusi bagi semakin kecilnya selisih negatif (kerugian) yang sementara ini dibukukan Pertamina.
"Pada akhir tahun nanti, berapapun selisih negatifnya harus diaudit dan diselesaikan pemerintah," jelasnya.
Jika harga minyak dunia terus turun dan rupiah semakin menguat, apa bisa premium turun tahun ini?"Harga keekonmian BBM ditentukan oleh harga minyak dunia, kurs mata uang, dan efisiensi operasional badan usaha. Jika harga minyak dunia turun, nilai rupiah membaik, dan Pertamina semakin efisien, harga BBM pasti semakin kompetitif," jawabnya.
[sam]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: