"Imbas gejolak di pasar global kan tidak begitu menyentuh sektor UKM serta industri kreatif. Karena itu di sektor ini, walaupun berskala kecil dan kontribusinya terhadap ekonomi nasional masih di bawah lima persen, tapi sangat layak diandalkan sebagai solusi penggerak ekonomi nasional," kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bidang Perbankan dan Finansial Rosan Perkasa Roeslani dalam keterangan kepada redaksi, Sabtu (10/10).
Menurutnya, sektor UKM dan industri kreatif selama ini hanya mendapat porsi kecil di dalam kebijakan bidang perekonomian. Padahal, seharusnya sektor-sektor tersebut patut ikut didorong karena lebih kokoh dalam menghadapi gejolak pasar global, ketimbang industri-industri besar.
Rosan mencontohkan Kota Bandung selama ini menjadi pusat industri kreatif dan UKM nasional. Bandung sudah lama dikenal sebagai pusat kreativitas dalam hal desain, fashion, arsitektur, film dan video, radio, musik, hingga teknologi perangkat lunak. Bandung pun dikenal juga sebagai trend setter dalam hal mode bagi kaum muda.
"Tantangan yang dihadapi industri kreatif ini adalah minimnya kebijakan yang mendukung iklim kreasi. Misal dalam hal perizinan, investasi, permodalan, dan perlindungan hak cipta," ujarnya.
Problem lainnya adalah industri kreatif yang acapkali berskala rumahan masih jalan sendiri-sendiri, belum bersinergi untuk memperkuat posisi tawar di pasar.
"Ini butuh formula rantai ekonomi yang mencakup kegiatan kreasi, produksi, dan distribusi. Bila rangkaian itu bisa sinergi maka nilainya bisa lebih besar," tutur Rosan.
Dia menambahkan, sektor yang terbukti berkontribusi bagi roda perekonomian provinsi dan mempunyai peluang pasar yang besar harus bisa mendapatkan prioritas pemerintah. Salah satunya produk teknologi informatika yang terbukti menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian Jawa Barat pada Triwulan II-2015 sebesar 19,12 persen.
"Di Indonesia banyak usaha-usaha kecil yang berpotensi bisa meningkatkan marketnya lebih luas. Melalui bantuan pembiayaan, banyak UKM lokal yang naik ke level lebih tinggi. Tentu saja selain UKM potensial, lini-lini bisnis yang terkait pariwisata masih menyisakan peluang yang besar juga," jelas Rosan.
[wah]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: