Menteri Perdagangan (Mendag) M Lutfi mengatakan, 461 unit pasar yang telah direvitalisasi itu terdiri dari 53 pasar percontohan dan 408 pasar non-percontohan. Anggaran untuk melakukan revitalisasi berasal dari dana tugas pembantuan sebesar Rp 1,9 triliun.
“Program revitalisasi pasar tradisional merupakan salah satu upaya mendorong percepatan pembangunan di daerah. Pertumbuhan ekonomi di daerah akan memperkuat sektor perdagangan dan meningkatkan daya saing pasar domestik,†ujarnya, kemarin.
Menurut Lutfi, hal itu penting untuk menghadapi tantangan dan kompetisi global yang semakin ketat. Apalagi omset transaksi di pasar tradisional setelah direvitalisasi mengalami kenaikan rata-rata 70 persen.
Ketua Departemen Koordinasi Bidang Infrastruktur dan Properti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Muhamad Idrus meminta pemerintah membatasi jumlah ritel modern. Saat ini jumlahnya sudah mengkhawatirkan dan mengancam pasar dan warung tradisional.
Kondisi itu semakin meningkatkan ketimpangan ekonomi di perkotaan. Soalnya, banyak usaha toko warga yang sulit berkembang karena kalah bersaing dengan ritel tersebut. Ditambah si-kap Pemerintah Daerah (pemda) yang terkesan menutup mata terhadap persoalan itu.
“Kita bisa lihat maraknya toko ritel modern hingga pelosok kampung, sementara warung tradisional banyak yang gulung tikar. Itu menambah parah pengangguran di Jakarta,†ujar Idrus.
Idrus menjelaskan, perkembangan ritel modern di pelosok daerah seperti Indomart dan Alfamart semakin luas. Saat ini, ada sekitar 10.600 gerai Indomart di seluruh Indonesia dan 488 di antaranya berlokasi di Jakarta. Sedangkan Alfamart memiliki 8.557 gerai di seluruh Indonesia.
Menurut dia, lokasi ritel modern tersebut saling berdekatan dengan warung tradisional. Barang yang dijual juga dinilai lebih beragam dan harganya lebih murah sehingga menghambat usaha warga yang sudah ada sebelumnya. “Warung kelontong kalah bersaing,†imbuhnya.
Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform Sapto Waluyo menambahkan, dalam skala luas praktik kebijakan yang pro ritel modern akan memiskinkan warga. Misalnya, di ritel modern orang harus bayar tunai untuk membeli barang, sementara di warung sebagian warga berutang saat belanja. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google