“Pelni sedang melakukan transformasi bisnis. Sebanyak 70 persen untuk kargo dan 30 persen penumpang,†ujar Manajer Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan Pelni Rina Trianasari.
Ia menjelaskan, jumlah armada kapal yang dimiliki Pelni saat ini mencapai 25 unit. Dua di antaranya dimodifikasi untuk kapal kargo, yaitu kapal Ceremai dan Dobon Solo. “Kami melihat peluang logistik lebih menjanjikan. Itu sebabnya kami melebarkan bisnis ke usaha kargo,†ucapnya di Jakarta, kemarin.
Namun, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pelayaran ini enggan mengungkapkan anggaran yang akan dikucurkan untuk bisnis ini. Pihaknya mengaku tengah menjajakinya. Begitu pula dengan jalur yang akan dilalui kapal kargo itu.
Perseroan menargetkan trayeknya meliputi jalur seluruh Indonesia, seperti Tanjung Priok ke Tanjung Perak. “Kami kan antar pulau. Kami membantu jalur Pantura, meminimalkan kepadatannya dengan armada kami,†kata Rina.
Saat ini Pelni juga telah bekerja sama dengan PT Pertamina, PT Krakatau Steel dan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN). Pelni bekerja sama dengan Krakatau Steel untuk pengangkutan baja, KPBN untuk mengangkut minyak kelapa sawit dan Pertamina untuk oli kapal.
Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, perusahaan pelat merah seperti PT ASDP Indonesia Ferry dan Pelni memang harus mengubah pola bisnisnya.
Pasalnya, sudah terjadi pergeseran kebutuhan masyarakat terhadap transportasi laut.
Ia menegaskan, PT ASDP dan Pelni akan mengubah pola pelayanan dari melayani angkutan penumpang jarak pendek ke angkutan barang untuk keperluan logistik. Dengan demikian, kapal lebih diarahkan ke angkutan barang dan diprioritaskan yang penyeberangan antar pulau.
Dahlan menilai, pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia sudah sangat pesat. Kelas menegah sudah menjadi orang kaya baru di Indonesia. Ciri dari kelas menengah adalah kebutuhan terhadap pembangunan dan pelayanan yang cepat. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google