“Tiga hal ini, budaya kerja, profesionalitas dan investasi menjadi fokus manajemen untuk menjadikan PT KAI sebagai perusahaan pelayanan jasa yang berkualitas dan berorientasi pada kepuasan pengguna jasa kereta api,†kata Direktur Logistik dan Aset Produksi KAI Joko Margono.
Menurut Joko, pada tataran pertama, perseroan melakukan transformasi bisnis dengan mengubah cara berpikir (mindset) dari berorientasi pada produk menjadi marketing oriented atau berorientasi pasar.
Kedua, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan mengirim 35 orang karyawan KAI setiap tiga bulan ke Prancis dan sejumlah negara lainnya untuk menimba ilmu teknologi dan pelayanan perkeretaapian.
Selain itu, KAI juga mengirimkan 150 orang pegawai dari masinis hingga penjaga pintu perlintasan untuk berguru ke China mempelajari sistem pengoperasian perkeretaapian.
“Sejalan dengan peningkatan kualitas SDM, kami juga mengimbanginya dengan menaikkan remunerasi 5 hingga 6 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir,†jelas Joko.
Sedangkan dari sisi pembenahan budaya lama, KAI melakukan pembersihan, terutama bagi karyawan yang dinilai nakal dengan memecat secara tidak hormat, termasuk menawarkan pensiun dini.
Adapun langkah ketiga yakni KAI melakukan investasi berkelanjutan dalam jumlah besar-besaran untuk perbaikan infrastruktur, pengadaan alat operasional seperti gerbong-gerbong dan piranti persinyalan kereta api. Joko menyebutkan, pada 2014, KAI setidaknya menganggarkan dana sekitar Rp 6 triliun.
Pembangunan fisik juga tercermin dari perbaikan gedung dan stasiun-stasiun dengan membongkar ribuan kios dan menyediakan lahan parkir serta pengadaan untuk peningkatan fasilitas layanan seperti E-ticketing.
Menurut Joko, sederet pengembangan oleh KAI juga menunggu, mulai dari meningkatkan pelayanan kereta api di Bandara Kualanamu, kereta api batubara di Sumatera Selatan, memperpanjang jaringan kereta rel listrik Jabodetabek hingga Cikampek dan menambah hingga 10 rangkaian. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google