“Saya masih menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang ekonominya cukup atraktif,†kata Chatib Basri kepada wartawan di Jakarta, kemarin.
Chatib menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang menurun dibandingkan tahun 2012. Hal ini terjadi karena pengeluaran belanja pemerintah masih kecil. Namun, kondisi ekonomi diklaimnya masih bagus. Jika dibandingkan dengan negara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jauh lebih tinggi.
“Misalnya saja Amerika Serikat (AS) dan Brasil yang pertumbuhannya
strugle (berkutat) di dua persen. Kalau saya jadi investor, saya akan pergi ke Indonesia karena pertumbuhan 6,02 persen,†promosi Chatib.
Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan juga tidak terlalu mengkawatirkan penurunan outlook ekonomi Indonesia. Sebab, bila pemerintah jadi menaikkan harga BBM bersubsidi, diprediksinya S&P akan menaikkan lagi peringkat utang Indonesia.
Dia menuturkan, keputusan S&P menurunkan peringkat utang Indonesia sudah jelas dikarenakan pemerintah melontarkan wacana kenaikan harga BBM bersubsidi sejak 12 bulan terakhir, namun sampai saat ini belum direalisasikan.
Dia berharap, pemerintah bisa segera mengambil keputusan. Sebab, dia melihat, wacana kenaikan harga BBM bersubsidi telah membuat sektor perdagangan sangat berhati-hati.
Kondisi ini, menurut Fauzi, memberikan dampak negatif seperti harga pangan yang mengalami kenaikan dan ekspektasi inflasi ikut bergerak naik.
Sekadar informasi, pemerintah berencana akan menaikkan harga BBM bulan depan. Harga BBM subsidi akan naik dari 4.500 per liter menjadi Rp 6.000 atau paling tinggi Rp 6.5000 per liter. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: