Laporan tersebut mengukur biaya mempertahankan gaya hidup premium bagi individu dengan aset kekayaan tinggi menggunakan acuan dolar Amerika Serikat (AS). Penilaian dilakukan berdasarkan harga berbagai barang dan jasa mewah di 25 kota besar dunia.
Julius Baer mencatat biaya untuk mempertahankan standar hidup premium secara global meningkat sekitar 10 persen. Kenaikan tersebut turut memengaruhi perubahan peringkat sejumlah kota dalam indeks tahun ini.
"Secara keseluruhan, biaya untuk mempertahankan standar hidup premium naik sekitar 10 persen sehingga susunan peringkat kota-kota global ikut berubah," tulis Julius Baer dalam laporannya.
Meski posisinya turun dari peringkat 18 pada tahun sebelumnya, namun Jakarta masih masuk dalam 25 kota yang dipantau sebagai tolok ukur biaya hidup kalangan beraset tinggi.
Di kawasan Asia Pasifik, Jakarta berada di bawah sebagian besar kota besar lainnya, namun masih lebih tinggi dibandingkan Mumbai, India, di posisi ke-22 dan Manila, Filipina, di peringkat ke-23.
Indeks gaya hidup Julius Baer disusun berdasarkan 20 indikator yang terdiri atas 11 kategori barang premium dan sembilan jenis layanan mewah yang umum menjadi pengeluaran individu beraset tinggi di berbagai negara.
Kategori barang yang dinilai meliputi sepeda, mobil, sampanye, perhiasan, properti residensial, peralatan olahraga, paket teknologi, jam tangan, tas perempuan, dan sepatu perempuan.
Sementara indikator jasa mencakup tiket pesawat kelas bisnis, restoran fine dining, layanan kesehatan, suite hotel, operasi mata LASIK, jasa pengacara, biaya pendidikan MBA, sekolah swasta, serta layanan spa.
Dalam rincian indeks tersebut, Jakarta menempati posisi keempat dunia untuk harga mobil dan peringkat kelima untuk sampanye. Biaya program MBA bahkan menjadi yang tertinggi di antara seluruh kota yang disurvei dengan menempati peringkat pertama.
Sementara itu, Jakarta berada di peringkat kesembilan untuk biaya sekolah swasta, kedelapan untuk tas perempuan, serta peringkat ke-12 untuk jasa pengacara. Adapun dua indikator, yakni setelan jas pria dan layanan spa, tidak masuk dalam perhitungan untuk Jakarta karena berstatus not applicable (NA).
Secara regional, Asia Pasifik masih menjadi pusat konsentrasi kekayaan global dengan lima kota masuk jajaran 10 besar kota termahal dunia bagi individu kaya.
Singapura kembali mempertahankan posisi pertama selama empat tahun berturut-turut, disusul sejumlah kota seperti Hong Kong, Shanghai, Sydney, dan Bangkok.
Menurut Julius Baer, tingginya harga properti residensial, mahalnya kendaraan, serta penguatan dolar Singapura menjadi faktor utama yang membuat negara kota tersebut tetap berada di puncak peringkat. Laporan itu juga mencatat Sydney menjadi kota dengan lonjakan peringkat tertinggi tahun ini setelah naik enam posisi.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: