desakan tersebut disamÂpaiÂkan Ketua Umum Apindo SofÂjan Wanandi ketika memÂberiÂkan sambutan di MusyawaÂrah NaÂsioÂÂnal (Munas) IX di Hotel JS LuÂwansa, Kuningan, Jakarta, kemarin.
Dia mendesak Presiden SBY agar segera mengambil tinÂdakan tegas guna menyikapi beban subÂsidi energi yang makin besar.
“Kami juga sebenarnya tidak suka harga BBM naik. Cost ikut naik. Tapi kami mendukung tinÂdakan tersebut untuk mengurangi deÂfisit. Kami mendukung 100 perÂsen agar harga BBM dinaikÂkan,†cetus Sofjan.
Jika harga BBM tidak mau diÂnaikkan, lanjut dia, maka pemeÂrinÂtah bisa menekan beban subÂsidi dengan menyalurkannya keÂpada orang yang tepat.
Dia mengungkapkan, keperÂcaÂyaan luar negeri terhaÂdap perÂekoÂnomian Indonesia saat ini cuÂkup baik sehingga ke depan bisa lebih berkembang. Namun, saat ini InÂdonesia memiliki maÂsalah inÂterÂnal yakni, ancaman gangÂguan ekonomi makro akibat beÂsarnya anggaran subsidi.
“Dikhawatirkan beban subsidi ini akan menambah defisit atau minus neraca perdagangan. ApaÂlagi penerimaan pajak sedang tuÂrun, ditambah kurs rupiah meÂlemah mendekati Rp 10.000 per dolar AS,†terang Sofjan.
Menanggapi desakan penguÂsaha ini, SBY mengaku pemerinÂtah sedang mematangÂkan beÂberaÂpa opsi untuk mengÂÂÂÂÂaÂtasi pemÂbengÂkakan subsidi energi di AnggaÂran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Namun, menurut SBY, opsi keÂnaikan harga BBM subsidi tidak menjadi prioritas. Dia khaÂwatir angka kemiskinan akan meningÂkat bila harga BBM naik.
Hal tersebut, kata SBY, terlihat dari pengalaÂmanÂnya menaikkan harga BBM tahun 2005 dan 2008. MeÂnurutnya, kenaikan harga BBM langsung memicu kenaikan kebutuhan pokok. IroÂnisnya, keÂnaikan itu tak sebanÂding deÂngan keÂnaikan harga BBM subsidi.
“BBM naik sekian ribu, tapi harga yang lain itu naikÂnya tak sebanding,†jelas SBY.
Atas pengalaman itu, Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu meminta banyak pihak memberiÂkan masukan untuk mencari soÂlusi pengurangan subsidi.
Anggaran subsidi energi tahun ini Rp 274,7 triliun. Rinciannya, subsidi listrik Rp 80,8 triliun dan subsidi BBM Rp 193,8 triliun deÂngan asumsi volume konsumsi 46 juta kiloÂliter (KL).
Kemenkeu memÂprediksi, kuota BBM subsidi akan meÂlebihi kuota sebesar 7 juta KL. Dengan demiÂkian, maka pemerintah harus merogoh tamÂbahan dana Rp 35 triliun.
Ekonom Faisal Basri menilai, SBY lambat mengambil kepuÂtuÂsan rencana pengendalian BBM. Menurutnya, impor minyak dan gas telah menyebabkan deÂfisit neÂraca perdagangan. Alhasil, konÂdisi nilai tukar rupiah juga seÂmakin terpengaruh dan terus meÂlemah. Sementara anggaran subÂsidi energi baik listrik dan BBM semakin membesar.
“Saya sudah capek ngomong BBM bersubsidi. Dari dulu meÂlakukan kajian melulu. Belum ada keputusan yang tepat soal BBM bersubsidi ini,†kritik Faisal, belum lama ini.
Dikatakan, dengan deÂfisitnya neraca perdagangan, peÂmerintah sebenarnya telah diÂperingatkan kondisi saat ini sudah lampu kuÂning “Kalau impornya sudah meÂninggi seperti ini, bahÂkan meÂleÂbihi ekspornya, kita sudah mulai
warning,†ujarnya.
Anggota Komisi VII DPR IsÂmaÂyatun juga mendesak presiÂden segera mengambil kebijaÂkan. NaÂmun, dia tidak setuju dengan opsi pembatasan. MeÂnuÂrutÂnya, pemeÂrintah tidak berÂhak melaÂrang masÂyarakat memÂbeli BBM subsidi.
“Saya kira pembaÂtasan juga tiÂdak akan bisa. SeÂlama ini sudah melakukan pemÂbatasan dan tiÂdak pernah berhaÂsil,†kata IsmaÂyatun. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: