“Lebih parah jika dibanding peÂlaksanaan kerja sama perÂdaÂgaÂngan bebas ACFTA (
ASEAN-China Free Trade Agreement),†ujar Wakil Sekjen Apindo Franky Sibarani kepada
Rakyat MerÂdeka, kemarin di Jakarta.
Hal itu, kata Franky, bisa diliÂhat dari beberaÂpa faktor. Pertama, poÂtensi AEC dan daya saing InÂdoneÂsia. Dalam ACFTA, IndoneÂsia meÂrasakan manÂfaat dengan terbukaÂnya poÂtensi akses pasar ke China yang meÂmiliki 1,4 miliar orang, lebih besar dari populasi seluruh negara Eropa. SementaÂra dalam AEC Indonesia hanya berpotensi menjÂadi pasar besar bagi negara ASEÂAN lainnya.
AEC bertujuan untuk menjaÂdiÂkan ASEAN sebagai pasar tungÂgal, di mana Indonesia meruÂpaÂkan paÂsar terbesar dengan poÂpulasi penÂduduk mencapai 40 perÂsen dari populasi ASEAN lainÂÂnya. Selain itu, neraca perdaÂgangan Indonesia dengan negara ASEAN lainnya maÂyoritas deÂfisit alias minus.
Apalagi, daya saing Indonesia juga berada dalam posisi bawah di antara negara ASEAN lainnya. Daya saing Indonesia, menurut Indeks Daya Saing GloÂbal 2010 berada pada urutan 75. Posisi ini di bawah Singapura yang menduÂduki posisi ke-2, Malaysia pada posisi 29, Filipina pada posisi 44 dan Vietnam posisi 53. Daya saing Indonesia hanya di atas Laos yang berada pada posisi 129 dan MyanÂmar pada posisi 133.
Selain daya saing, pengusaha nasional juga dibebani biaya loÂgistik. Di Indonesia, biaya ini mencapai porsi 16 persen dari seluruh biaya produksi. Padahal, normalnya hanya 8-9 perÂsen.
“Dalam soal biaya logistik, InÂdonesia hanya menÂduduki posisi 46 secara global, di bawah SiÂngapura pada posisi 2, Malaysia peringkat 21, Brunei Darussalam peringkat 28 dan Thailand pada peringkat 38,†jelas Franky.
Argumen kedua, tahun 2013 dan 2014 merupakan tahun poliÂtik. Hampir semua energi pemeÂrinÂtah terfokus kepada penyeÂlengÂÂgaraan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang renÂcanaÂnya dimaÂjukan pada 2013 untuk kepala daerah yang akan habis masa jaÂbatannya pada tahun 2014.
Ditambah lagi bakal ada peÂmilihan leÂgislaÂtif (pileg) dan pemilihan PreÂsiden (pilpres) pada tahun 2014. Dengan fokus pada persoalan-persoalan politik, diÂyakini pemeÂrintah tidak akan terfokus untuk menguatkan daya saing industri nasional menghaÂdapi implemenÂtasi AEC 2015.
“Meskipun secara matematis masih ada waktu dua tahun bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri, tapi jika pemerintah terfoÂkus kepada persoalan politik, waktu tersebut juga tidak akan termanÂfaatkan,†kata Franky.
Alasan ketiga, pemerintah sampai sekarang belum terlihat serius mempersiapkan daya saing industri nasional menghadapi AEC. Di atas kertas, lanjut Franky, Indonesia sudah memiliki kebiÂjakan untuk menghadapi AEC, tapi implementasi dari kebijakan terÂsebut masih belum terlihat.
“Sebaliknya, kebijakan pemeÂrintah sekarang justru menurunÂkan daya saing industri nasional. Pemerintah seperti menÂjadikan industri tekstil sebagai sapi peÂrah biaya energi, terutama untuk komÂponen kenaikan tarif dasar listrik, pajak sesuai otonomi daeÂrah dan penetapan Upah MiÂnimum ProÂvinsi (UMP),†bebernya.
Anggota Komisi VI DPR IsÂkanÂdar Syaichu mengatakan, peÂnerapan AEC pada 2015 bisa menjadi ancaman bagi Indonesia.
â€Pasar Indonesia begitu potenÂsial untuk negara lain. Sementara negara lain belum tentu menjadi pasar potensial untuk IndoneÂsia,†ujar bekas wartawan ini.
Bahkan, kata dia, banyak kalaÂngan pengusaha meragukan apaÂkah Indonesia siap menghaÂdapi AEC. â€Sejauh mana kesiaÂpan kita. Saya rasa tidak. IndoÂnesia akan kedodoran karena sistem logistik nasional saja belum seÂlesai,†ucapnya.
Rendahnya kualitas distribusi barang dan jasa tanah air, kata Iskandar, akan menggerus keÂmamÂpuan penguÂsaha lokal berÂsaing dengan proÂduk asal ASEAN. Terbukti sejak dua taÂhun terakhir pembahasan sistem logistik naÂsional antar kemenÂterian belum juga selesai dibahas. “Indonesia pasti nanti kedodorÂan bukan haÂnya dari segi infraÂstrukÂtur, tapi juga logistik,†ujarnya.
Menurut Iskandar, saat ini peÂngusaha di Indonesia juga masih menghadapi berbagai maÂsalah, terutama pungutan liar (pungli) di birokrasi serta miÂnimnya jaminan kepastian huÂkum. “Karena itu, AEC harus diÂperÂsiapkan dengan matang. Jangan sepert ACFTA yang justru meruÂgikan produk lokal,†tegas Iskandar. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: