Sekjen Organisasi Angkutan DaÂrat(Organda) Andriansyah meÂngatakan, kelangkaan solar yang terjadi sejak akhir Maret teÂlah berdampak pada bisnis para peÂngusaha angkutan.Bahkan, saat ini Organda masih melaÂkuÂkan pengumpulan data daerah maÂna saja yang mengalami keÂsulitan bahan bakar solar.
Menurut dia, berdasarkan laÂporan, daerah yang mengalaÂmi keÂÂlangkaan solar adalah SumateÂra Utara, Sumatera Barat, BengÂkulu, dan Jawa TeÂngah.
â€Sisanya akan ketahuan saat rapat Selasa (9/4),†katanya kepaÂda
Rakyat Merdeka, kemarin.
Andriansyah mengatakan, keÂlangkaan solar tersebut telah mengganggu distribusi barang dan angkutan penumpang. KeÂlangÂÂkaan ini membuat tidak terÂjaminÂnya pengangkutan. PaÂsalÂnya, paÂsokan bahan bakar miÂnim, sedangÂkan armada yang ada baÂnyak meÂlayani untuk antar kota.
â€Tidak ada kepastian apakah bisa dapat solar lagi di jalan. ApaÂÂlagi pembeliannya juga diÂbaÂtasi. Bahkan banyak bus dan truk yang mogok karena kehaÂbisan solar,†katanya.
Kondisi ini membuat banyak angÂkutan penumpang dan barang yang tidak produktif karena harus banyak mengantre di pom bensin, sehingga yang seharusnya bisa dua kali sekarang jadi satu kali angkut. Kondisi ini memÂbuat peÂngiriman barang dan jadÂwal angÂkutan penumpang tak tepat waktu.
“Untuk mengatasi pengiriman barang kami sudah menganÂtisiÂpasi dengan mengirim lebih ceÂpat. Namun, lagi-lagi itu terÂganÂtung pasokan solar,†jelasnya.
Andriansyah mengatakan, piÂhaknya sudah menyurati Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai kelangkaan solar. PiÂhaknya sudah menyampaikan masalah ini ke Pertamina.
Karena itu, dia meminta, KeÂmenÂterian ESDM dan Pertamina seÂgera menyeÂÂleÂsaikan masalah itu dengan mencukupi kebutuhÂan soÂlar untuk angkutan umum dan baÂrang. “Hingga kini kami belum dipanggil pemerintah dan PertaÂmina terkait masalah ini,†jelasnya.
Kendati begitu, dia belum mempunyai data kerugian dari kelangkaan solar yang terjadi daÂlam beberapa hari terakhir ini.
“Kita masih menghitung dan meÂnunggu laporan dari daerah. SeÂtelah itu baru kita tahu berapa kerugiannya,†jelasnya.
Wakil Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra RianÂto mengatakan, kelangkaan solar yang terjadi saat ini telah meÂnamÂbah beban para pengusaha logisÂtik. Apalagi, kontrak dengan inÂdustri tidak ada perubahan.
Kelangkaan itu, kata Mahendra, menyebabkan biaya BBM untuk transportasi naik dua kali lipat. “Saat ini untuk jarak 500 km biaya BBM menyedot 60 persen dari biaÂÂya transportasi. Dengan kelangÂÂkaan solar, cost naik dua kali lipat karena harus membeli lebih maÂhal. Jika dihitung biayaÂnya suÂdah meÂlebihi harga jasa kita ke industri dan itu ditangÂgung kita,†katanya keÂpada
Rakyat Merdeka.Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa ingin masalah kelangkaan solar subsidi di beberapa daerah diselidiki. PeÂmerintah tak ingin ada penyimÂpangan distribusi solar subsidi.
“Seharusnya solar itu cukup digunakan sesuai dengan perunÂtukÂannya. Harus diselidiki apaÂkah ada penyimpangan atau kuÂoÂta tersebut yang sudah diÂalokaÂsikan ke daerah industri dan perÂtambangan,†jelas Hatta
Ia mengatakan, jika tidak diÂselidiki lebih lanjut, maka keÂboÂcoran kuota BBM subsidi akan terus terjadi. Menurutnya, jika kaÂsus seperti ini sering terjadi, maÂka beÂrapapun tambahan yang digelonÂtorkan akan bocor terus.
Kelangkaan solar juga berdamÂpak pada nelayan gara-gara PerÂtamina membatasi pasokan. BaÂnyak nelayan di Jawa dan SuÂmatera yang tidak bisa melaut.
Anggota Komisi IV DPR Ma’mur Hasanuddin mengataÂkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) harus melakuÂkan koordinasi segera dengan PerÂÂtamina, Kementerian ESDM maupun Badan PengaÂtur Hilir (BPH) Migas untuk menyeÂleÂsaikan permasalahan ini. Jika tidak maka pemerintah dan PerÂtamina bisa dinilai lepas tangan. “Jaminan pasokan BBM subsidi harus jelas,†katanya.
Vice President Corporate ComÂmunication Pertamina Ali MunÂdakir mengatakan, secara total reaÂlisasi penyaluran premium dan solar telah melampaui kuota yang ditetapkan oleh pemerintah. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: