“Mahalnya harga bawang putih, bawang merah dan bebeÂrapa komoditas lainnya dikaÂreÂnakan kurang perhatian peÂmeÂrintah terhadap para petani, akiÂbatnya petani yang dirugikan. Hal ini salah satu penyebab petani enggan menanam bawang sehingÂga suplai terbatas,†ujar pengamat pertanian Ahmad Yakub.
Kendati begitu, dia mendukung kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) yang membatasi imÂpor sejumlah komoditas hortikulÂtura. Kebijakan ini dinilai bisa menguntungkan dan meÂrangsang petani lokal untuk mengemÂbangÂkan pertaniannya. Sayangnya, kebijakan itu sifatnya hanya seÂmentara atau temporer.
Akibatnya, petani masih ragu-ragu mengembangkan atau meÂnanam komoditas hortikultura karena khawatir hargaÂnya anjlok. “Yang diinginkan petani dan konsumen adalah harga yang stabil,†jelasnya.
Selama ini, menurut Yakub, peÂtani lebih memilih menanam padi daripada bawang atau cabe kareÂna pemerintah hanya meneÂrapkan aturan harga pembelian pemerinÂtah (HPP) beras. PadaÂhal, bawang dan cabe merupaÂkan tanaÂman yang sensitif terhaÂdap alam dan harga.
Yakub mengatakan, ada bebeÂrapa hal yang bisa dilakukan peÂmerintah untuk mengatasi keterÂgantungan pada impor pangan. Misalnya, ketersediaan benih dan pupuk baik organik mauÂpun non organik harus tepat wakÂtu agar dapat meningkatkan produksi.
“Terkait dengan produksi, keÂterÂsediaan benih dan pupuk, baik pupuk organik maupun non orÂganik kurang tepat waktu. SeÂmentara teknologi untuk produksi yang digunakan petani tidak berÂkembang sejak dulu,†katanya.
Menurut dia, itu semua karena pemerintah tidak memahami bahÂÂwa pertanian Indonesia ini berÂskala kecil dan berbasis keÂluarga. Jadi, jangan diperkenalÂkan deÂngan teknologi mesin taÂnam seÂperti di negara lain yang harganya miliaran rupiah.
“Itu tidak masuk akal. TeknoÂlogi yang memungkinkan bagi kita adalah bersifat kolektif atau komunitas,†ucap Yakub.
Dia mengatakan, selama ini baÂnyak lahan pertanian yang dikonÂversi menjadi lahan non pangan, seperti digunakan untuk infraÂstruktur, perkebunan, perumaÂhan dan pembangunan lainnya.
Anggota Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi mengatakan, jika pemerintah tidak serius memÂbaÂngun pertanian khususnya horÂtikultura, maka negara ini akan terus bergantung kepada produk impor.
“Impor bawang yang dilakuÂkan pemerintah mencerminkan kegaÂgalan mewujudkan swasemÂbada pangan dan pemberdayaan petani negeri sendiri,†kata Viva.
Viva mengingatkan, yang haÂrus dilihat dari impor itu adalah
supply and demand. Dalam hal ini, mestinya pemeÂrintah memÂperhatikan nasib para petani baÂwang dalam neÂgeri.
“Jika panen, jangan sekali-kali pemerintah mengeluarkan kebijakan impor. Itu bisa meÂrusak harga di petani. Harga baÂrang impor itu kan lebih murah dari lokal,†cetusnya.
Ketua Harian Himpunan KeruÂkunan Tani Indonesia (HKTI) Sutrisno Iwantono mengimbau pemerintah segera mengemÂbangÂkan produksi bawang putih dari varietas unggul dengan memÂberÂdayakan lahan pertanian di dalam negeri.
“Untuk bawang putih, cariÂlah benih yang bagus. Itu tugasnya Kementerian PertaÂnian,†ujarnya.
Menurut Sutrisno, pasokan produksi bawang putih dalam negeri untuk kebutuhan nasional hanya 5 persen, selebihnya dituÂtup dengan impor dari China. Oleh sebab itu, dia menyarankan pemerintah meningkatkan proÂduksi bawang putih dengan progÂram pemberdayaan petani dalam negeri, terutama di daerah MaÂlang, Batu dan Lembang.
Menteri Perdagangan (MenÂdag) Gita Wirjawan mengatakan, pihaknya saat ini mulai menÂcerÂmati harga cabe. Sebab, kenaiÂkan harga komoditas hortikultura itu berpotensi mendongkrak inflasi.
“Harga cabe kita cermati, terÂmasuk mengenai
supply and deÂmand-nya. Kita juga tetap panÂtau harga bawang merah dan baÂwang putih termasuk kedelai,†katanya.
Menurut Gita, pihaknya belum menemukan indikasi gangguan distribusi maupun penimbunan komoditas, khususnya cabe. Jika memang komoditas hortikultura termasuk cabe kekurangan pasoÂkan di dalam negeri, pihaknya biÂsa mendatangkan melalui impor.
Langkah itu, kata Gita, bisa diÂlakukan. Pasalnya, kenaikan harga cabe secara signifikan berÂpotensi menyumbang inflasi. Namun, sampai saat ini harga koÂmoditas itu masih terkendali.
Untuk komoditas hortikultura lain seperti bawang merah, Gita optimis mulai April harga akan menurun karena memasuki muÂsim panen bawang merah. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: